Jumat, 13 Desember 2013

Lyric Lagu Homicide - Rima Ababil

Karena Khalayak Tak Pernah Salah Memuja Thagut Penampakan
Maka Kalian Adalah Terdakwa Yang Terlalu Mendambakan
Domba Tanpa Gembala
Wujud Tanpa Kepala
Dunia Tanpa Pandawa
Sumpah Aral Kuasa Tanpa Palapa
Merakit Dunia Tanpa Manual Tunggal
Mengepal Surga Neraka Yang Manunggal
Di Ujung Hari Yang Berlangit Sepekat Aspal
Di Petang Para Dajjal Neoliberal Meminta Tumbal
Karena Buku Sejarah Ditulis Dengan Darah
Dengan Anggur dan Nanah
Dengan Kotbah dan Sampah
Maka Argumen Terlahir Dari Kerongkongan Korban
Digorok Dipagi Buta Di Lapangan Pedesaan
Dikubur Bernafas Dimalam Semua Kutukan
Menaruh Rima Diatas Hitungan Ritme Pukulan Rotan Brimob
Pengganti Aroma Smirnoff
Berakhir
Layak Hasrat Deborg Berepilog Tanpa Akhir
Kombinasi Mutakhir Para Gerilyawan Kashmir

Tolstoy dan B-boy Yang Menari Diatas Pasir
Hingga Para Aparat Gomorrah Tak Berdiri Tanpa Dipapah
Hingga Berhala Yang Kau Sembah Merata Dengan Tanah
Dengan Khasanah Busur Serapah Tanpa Panah
Dengan Ranah Yang Merubah Kotbah Yang Menjadi Limbah
Dengan Lanskap Penuh Kesumat
Despot Melaknat
Penuh Bigot Yang Bersandar Pada Jaminan Polis dan Jimat
Maka Kupinang Kepalan Pelumat
Tirani Valas Yang Tak Pernah Tamat Memplagiat Kiamat
Hingga Liang Lahat
Dengan Eskalasi Perang Badar
Membakar Akar Penyeragaman Bawah Sadar
Pasca Kolonial Pasca Neraka Horizontal
Pasca Bumi dan Langit
aku dan Kau Menjadi Wadal
Sejak Para Kaisar Merapal Mantra Anti-makar
Sejak Para Patriot Tak Pernah Sadar Menjadi Barbar

Rima ini ku Rancang Untuk Menantang Mitos
Hegemoni Rezim Dewa Logos
ku Rancang Rima Ababil Yang Bidani Holokos
Jika Kau Bangun Kastilmu Tuk Mendominasi Kosmos

Antitesa Dari Semua Petuah Para Tetua
Penguasa Gua
Gabah dan Semua Kutukan Tak Bertuah
Rima ini Adalah Hitam Merah Tetesan Darah
Pemusnah Lintah Bendungan Siklus Hasrat dan Amarah
Ludah Para Penadah Gejah Yang Menawar Bid’ah
Yang Lupa Melawan Titah
Kerajaan Risalah

Pemungut Arwah Peluluh Lantah Kaki Tangan Kepala Berhala Yang ku Nujum Punah
Serupa Jalur Ziarah Satuan Batalyon Lakon
Yang Membantahkan Konon Gurita Monitor Panoptikon
dan Jargon Perluasan Koloni Kanon
Perpanjangan Netra Mossad dan Agenda Titipan Pentagon
Agen Intelejen Berbisik Dalam Dialek Dekaden
Berdiskusi Tentang Ribuan Ancaman Bahaya Laten
Lumpen Yang Membangkang
Hedonis Yang Mencoba Terbang
Sufi Yang Menjangkau Terang dan Anarkis Yang Merontakekang
Rima ini Adalah Kontra Komando
Menolak Berkarat
Di Pengujung Tengat M’rancang Beliung Serupa Tornado
Untuk Balans Yang Banal
Balada Dalam Kanal Dialog Satu Arah Sejarah Yang Berkoar Bertemu final
Hingga Satu Subuh Para Sayap Terentang
Menantang Menara Rutan Dengan Kesadaran Para Pecundang
Berembuk Di Pojokan Selokan Desa dan Urban Merakit Plot Armamen Ababil Sebelum Mentari Datang
Sebelum Cenayang Industri Keluar Mencari Mangsa
Menuai Bara Dari Pusara Kalam dan Makam Wacana
Kesucian Taklid Yang Menyuburkan Bencana
Para Penikam Punggung dan Para Pengkhianat Lantai Dansa
Pasca Kolonial Pasca Neraka Horizontal
Pasca Bumi dan Langit
aku dan Kau Menjadi Tumbal
Sejak Argumen Hanya Berkisar Di Pusaran Selasar
Surga dan Neraka
Kontol
Isu Kelentit dan Biji Zakar
Yo

Rima ini ku Rancang Untuk Menantang Mitos
Hegemoni Rezim Dewa Logos
ku Rancang Rima Ababil Yang Bidani Holokos
Jika Kau Bangun Kastilmu Tuk Mendominasi Kosmos

Senin, 25 November 2013

3 Secrets of the Unknown Woman

1. Jika dia mudah menangis itu menandakan ia sosok yang setia, mudah merindukan seseorang dan berat bila melepaskan cintanya.

2. Bila dia tersenyum ramah itu menandakan baik hatinya, mulia akhlaknya, tak suka menyombongakan diri, Penyayang, tulus dalam menerima maupun memberi.

3. Bila dia mudah ceria itu menandakan sosok yang selalu berharap akan hadirnya seseorang memberinya kebahagiaan serta dapat menghapus air matanya di masa lalu :')


THX A LOT WHO HAVE READ THIS!!

Senin, 14 Oktober 2013

Waiting vo the time

Waktu berjalan begitu cepat. Dahulu Anggun begitu memuja-muja Reva meskipun mereka belum saling mengenal. Sejak pertama kali bertemu, Anggun sudah merasakan sesuatu yang beda. Akan tetapi Anggun selalu bersabar menunggu saat dimana mereka akan saling mengenal. Momen itu terasa begitu lama datangnya. Hingga suatu saat seorang sahabat Anggun saling memperkenalkan mereka.

Namun kisah cinta ini belum berakhir sampai disitu. Sejak mereka saling mengenal, mereka harus melakukan suatu tahapan menuju jenjang cinta, yaitu ‘PDKT’ alias pendekatan. Tahap ini berjalan begitu sangat lama pula, berlangsung hingga 3 Tahun. Anggun pun merasakan Reva yang sepertinya mustahil untuk jatuh hati padanya. Akhirnya Anggun memutuskan untuk menyerah menunggu Reva, dan memutuskan untuk fokus ke UN SMK yang sudah di depan mata. Walaupun begitu Anggun dan Reva masih tetap saling berkomunikasi jarak jauh seperti biasa.

Finally hari kelulusanpun tiba, seluruh siswa berkerumunan saling berdesakan di papan pengumuman, untuk melihat hasil UN. Fortunately! Enggak ada yang terlihat menangis stelah melihat papan pengumuman. Itu berarti enggak ada yang enggak lulus. Saat itu kami semua sangat bahagia, namun juga sangat bersedih karena kita akan meninggalkan masa putih abu-abu. Kita akan mencari jenjang yang lebih tinggi bisa kerja maupun kuliah.

Saat hari kelulusan itu hampir seluruh siswa terutama laki-laki yang mencoret-coret baju mereka, dengan berbagai tanda tangan dan sepidol yang berwarna-warni pula. Sekarang tak ada lagi yang namanya saling mencontek, saling lempar tipeks, saling nongkrong depan kelas, jailin guru, dihukum guru di depan kelas dll. Begitu cepat waktu berlalu.

Suatu malam, terlihat Anggun yang sedang berada di jendela dan sedang memandangi langit malam. Malam itu Anggun sedang membayangkan Reva. Walaupun hari ini dia bahagia karena telah lulus, namun terasa ada yang kurang, hingga membuatnya gundah gulana sperti itu. Kemudian terdengar alunan lagu pilihan hati dari Geisha yang membuyarkan lamunannya. Anggun tahu bahwa yang mengeluarkan suara itu adalah poselnya. Lalu dia merogoh ponsel yang berada di atas kasurnya. Sembari menatap layar ponselnya, dia melongo, ternyata yang memanggilnya adalah cowo yang dipujanya sedari kelas 1 SMK. Dengan jantung yang tiba-tiba begetar Segera ia menekan tombol hijau. Tiiit…
“hallooo… malem putri mammoth” terdengar suara Reva di seberang sana yang biasa memanggil Anggun dengan sebutan Putri Mammoth, entah apa yang ada dipikiran Reva saat menciptakan nama hewan purba itu.
“ya haloo kak Reva, tumben nelpon, kenapa kak?”
“kamu udah lulus ya? Congratulation for your success darling!!!” ucap Reva yang memberikan selamat pada Anggun.
“thanks kak, kakak nelpon aku Cuma mau ngomong gitu aja?”
“hmmm… ya enggaklah sayang, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apaan kak?”
“hmmm, sebenernya… aku suka sama kamu dari dulu, tapi karena nungguin kamu lulus dulu aku baru mau nembak kamu” tuturnya dengan nada yang berkesan.
Mendengar ucapan itu jantung Anggun udah seperti mau loncat-loncat keluar. Anggun seakan terbius, dan tak bisa ngomong apa-apa. Ternyata bener yang dibilang temen-temennya. Reva pasti Cuma mau nungguin dia lulus dulu, karena Reva sudah kerja. Reva pasti memikirkan keadaan juga saat Anggun masih sekolah, dia tidak mau mengganggunya.
“kenapa diem? Apa kamu udah punya pacar saat ini?”
Anggun segera sadar “ahh… be.. belum kak” kata-kata Anggun terpatah-patah.
“lalu kamu apa nggak terima cinta aku Nggun?”
Tanpa pikir panjang dan bagaikan terhipnotis Anggun bilang “ya tentu kak.”
“aku.. aku juga suka kakak dari pertama aku lihat kakak” tutur Anggun.
Kini kebahagiaan Anggun telah bertambah dengan adanya Reva sebagai pacarnya.

Mereka sudah menjalin hubungan sudah hampir setahun. Dan selama itu mereka memutuskan bekerja di tempat yang berbeda, agar tidak ada personal problem di tempat kerja. Meskipun mereka harus jarang bertemu, karena keduanya memiliki kesibukan tersendiri. Tapi mereka tetap saling menghubungi dan mempercayai satu sama lain.

Beberapa bulan hubungan masih berjalan baik-baik saja. Namun suatu hal yang manis tidak akan selamanya bertahan, kata pepatah tak ada yang abadi. Begitu juga dengan suatu hubungan pasti ada pahit manisnya karena live is never flat. Entah apa telah yang terjadi, suatu saat tiba-tiba Reva mengajak Anggun ke Taman Kota.
“Anggun kamu tahu enggak kenapa aku ngajak kamu ke tempat ini tiba-tiba?” tanya Reva mengawali percakapan.
“enggak, ada apa kak? Kakak mau ngomong sesuatu?”
Reva terdiam namun Anggun menyadari raut wajah kekasihnya itu memancarkan kesedihan, dia terlihat berkaca-kaca namun Anggun yakin dia pasti sedang menahan air mata itu menyentuh pipinya.
“kak, ada sesuatu yang kakak sembunyiin? Kenapa wajah kakak tampak sedih dan pucat, tak seperti biasa, kakak sakit?” tanya Anggun yang heran melihat pacarnya, kemudian menjulurkan tangannya dan menyentuh kening Reva untuk merasakan suhu tubuh Reva.
“enggak sayang, aku enggak sakit, aku baik-baik aja, Anggun…” Reva menggantung kalimatnya. Anggun hanya sedikit memiringkan kepalanya heran.
“kamu masih sayang sama aku?” sambung Reva.
“tentu saja kak, kenapa kakak nanya kaya gitu, kakak udah enggak sayang sama aku lagi?” Anggun merasakan feel yang aneh saat mendengar pertanyaan kekasihnya.
“Anggun gimana misalnya kalau suatu saat nanti kita berpisah karena sesuatu?” Reva tak menjawab pertanyaan Anggun, malah melontarkan pertanyaan yang aneh lagi.
“kenapa nanya gitu lagi? Apa kakak mau putusin aku? Kenapa? Ada masalah apa? apa kakak udah punya cewe lain?”
“bukan gitu Anggun, aku masih sayang banget sama kamu,dan enggak ada sedikit pikiran terlintas untuk mencari cewe lain, bahkan aku sempat berfikir untuk menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku” tutur Reva yang terlihat sangat serius dan penuh makna.
“tapi Nggun, ada masalah besar antara kita”
“masalah besar apa?” tanya Anggun spontan. Lalu Reva menarik nafas panjang sebelum menjawab, seakan dia menghadapi sesuatu yang menegangkan.
“orang tuaku… enggak menyetujui hubungan kita”
“apa?” Anggun sangat shock mendengar pegakuan itu.
“tapi kenapa, bukannya ibumu udah tau aku? Kita kan satu Desa, apa yang membuat ibu seperti itu?” sambung Anggun.
“bukannya dia enggak setuju Nggun, tapi dia trauma akan kejadian yang dulu menimpa ayahku, dia takut itu akan terjadi”
“kamu pernah denger kan keyakinan orang-orang desa, bahwa pria dari desaku enggak boleh menikah dengan gadis dari desamu” Reva menjelaskan cerita takahayul di Desak mereka, yang katanya bila gadis dan lelaki antara desa mereka menikah maka yang wanita akan menjadi janda secepatnya, seperti halnya yang telah terjadi pada ibu Reva. Tapi Anggun selalu berfikir itu hanyalah mitos belaka.
Garis hidup seseorang hanya diatur oleh Tuhan, bukan manusia yang percaya begitu saja dengan apa yang mereka dengarkan. Seseorang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, jika tidak sekarang mungkin besok atau suatu saat nanti, tapi kita tidak tahu.
“lalu, apa kita mesti percaya mitos seperti itu?” Anggun yang sepenuhnya sangat tidak menyetujui keputusan itu.
“aku memang enggak percaya, tapi ibuku sangat mempercayainya karena dia yang mengalaminya, ibu ditinggal ayah saat ku masih dalam kandungan” tutur Reva menjelaskan, dia memang sangat menyayangi ibunya, hal itu salah satu yang membuat Anggun mengaguminya selain ketampanannya.
“tapi ku yakin itu hanyalah takdir Tuhan, dan semua orang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, aku enggak mau pisah dengan kakak aku sayang kakak.” Anggun mulai terlihat sangat ketakutan untuk berpisah dengan Reva.
“ya, aku pun sama sepertimu, tapi aku enggak berani menentang ibu, dia yang telah membesarkanku tanpa peran seorang suami”
“baiklah kak, aku mengerti, jangan pernah menentang ibumu kak” ucap Anggun dengan mata berkaca-kaca, namun ia langsung berlari agar tak dilihat Reva. Namun Reva mengejar dan menarik Anggun ke dalam pelukannya. Saat itu langit diselimuti awal tebal. Kemudian jatuhlah butir-butir air dari langit, yang membasahi mereka berdua di taman kota.
“Anggun maafkan aku, aku enggak bisa mempertahankan cinta kita, aku memang pengecut, aku enggak bisa berbuat apa-apa” aku Reva
Anggun hanya terdiam dalam pelukan Reva, dia tetap menangis.
“Aku enggak bakal nyari pengganti kakak” bisik Anggun dalam benaknya.
Kemudian Reva melepas pelukannya. “kamu jangan nangis lagi ya, kamu pasti dapat yang lebih baik dari aku” kata Reva sambil mengusap air mata yang di wajah Anggun yang sudah berbaur dengan air hujan. Kemudian mencium kening, mata dan bibir Anggun. Anggun membiarkannya, dia hanya terdiam.

Semenjak kejadian malam itu, hidup Anggun mulai berubah. Anggun yang biasa terkenal jail dan ceria, kini berubah menjadi Anggun yang pemurung, pendiam, dan tak pernah tertawa, meski itu hanya untuk tersenyum sedikit. Semakin hari wajahnya semakin pucat lesu. Hingga akhirnya kondisinya semakin memburuk, jatuh sakit dan harus di opname.

Seminggu ini Anggun koma di rumah sakit, dan seperti biasa ibunya selalu berada di sisi anaknya. Ibu Anggun sangat terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba mengigau “Kak Reva… kak reva… kak Reva!!!”. Lalu Ibunya segera memanggil dokter.

Setelah diperiksa, Dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Anggun sangat tinggi, detak jantungnya juga tidak teratur, lalu dokter menyuruh Ibu memanggil Reva. Sebenarnya, Anggun memang mempunyai penyakit jantung, namun sudah lama tak pernah kambuh, sampai sekarang ini.

Keesokan harinya Anggun sadar dari komanya. Dia membuka matanya secara perlahan, dan melihat sekeliling.
“Ibu!!!” anggun melihat ibunya tertidur di sampingnya. Air matanya mulai mengalir, dari ujung mata membasahi pipinya.
“kamu udah sadar sayang” ibu Anggun terbangun, Anggun segera mengusap air matanya yang membalut wajahnya. “ibu, udah makan, pasti belum, ibu pulang aja ya, aku nggak apa kok sendiri”
“Tapi nak…” perkakataan ibu diputus” uda nggak apa kok bu…”
“ya sudah, ibu pulang ya, ayahmu pasti juga udah mau pulang sekarang” sebelum pulang ibu mencium kening Anggun.

Beberapa hari di Rumah sakit, sosok yang diharapkannya datang tak kunjung datang menghampirinya. Semakin hari harapannya semakin pupus bersamaan dengan kondisinya yang semakin melemah.

Di suatu malam Anggun tersadar, dia memandang sekelilingnya, tak ada siapa. Saat itu semua keluarga tidur di luar ruangan Anggun.
“Tuhan, inikah akhir hidupku?” Anggun tak dapat membendung air matanya, mengalir begitu saja menyiram wajahnya yang pucat pasi.
“apa arti kesetiaan saya selama ini? Apa salah saya? Mana keadilanmu? Sedari kecil saya selalu menderita, dan kini saya harus terluka lagi, entahlah, apa gunanya saya di dunia ini?” sedu Anggun dalam hati.

Keesokan harinya, kondisi Anggun sangat memprihatinkan, seakan tak ada harapan hidup lagi. Detak jantungnya semakin meningkat, sang ibu sangat gelisah, ketika menyaksikan sang anak yang sedang ditangani Dokter.
Saat dokter sedang memeriksa Anggun, Reva tiba-tiba datang. Seiring keluarnya dokter, Reva pun sampai di antara keluarga Anggun.
“Bu, gimana keadaan Anggun?” tanya Reva pada Ibu Anggun.
“begitulah Va, kondisi Anggun sangat buruk sekali” ucap Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ibu, kita harus terus berdoa dan berdoa, jangan menyerah, masih ada harapan” kemudian dokter selesai menangani Anggun. Saat dokter keluar dari ruangan Anggun, Ibu dan Reva menghampirinya.
“gimana dok, Anggun nggak apa-apa kan?” tanya ibu.
Dokter hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“dok anak saya baik-baik saja kan dok?” tegas ibu sekali lagi,
“semua sudah kami lakukan semaksimal mungkin, namun…” Dokter menggelengkan kepalanya lagi.
“apa?” ibu langsung pingsan setelah mendengar semua itu, kemudian dokter membawanya ke ruang pengobatan. Sementara Reva masuk ke ruangan Anggun. Dia menuju sisi Anggun, kemudian menggenggam tangan Anggun.
“Anggun… bangun sayang, bangun!! Ini Reva, ayo bangun, kamu sayang aku kan?, please jangan tinggalin aku, Nggun!!!” teriak reva sambil mengguncang Anggun. Kini Reva benar-benar menangis, lalu ia memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sambil menangis.

Lalu…
“Kak Reva…” Reva mendengar suara itu, lalu ia membuka matanya, benar, ternyata Anggun yang memanggilnya.
“Anggun!! Kamu masih Hidup” Reva langsung terbangun dari duduknya, dan mengelus pipi Anggun.
“ya, hanya untuk bertemu kakak” jawab Anggun.
“aku panggil dokter dulu”
Baru akan berbalik badan…
“kak tunggu!!” sambil memegang tangan Reva.
Lalu Anggun meletakkn jari telunjuk kanannya di bibir.
“kak, aku hanya sebentar, hanya 15 menit, aku udah menunggu saat ini, aku nggak mau semua tahu” ucap Anggun
“kamu jangan ngomong gitu, kamu akan tetap bersama kakak” Anggun hanya tersenyum lalu berkata “aku mencintaimu, sangat mencintaimu, dimanapun aku berada akan selalu mencintaimu”
“aku juga mencintaimu” balas Reva
“kak, aku.. aku nggak mau kakak menentang Ibu kakak, demi aku, aku akan selalu melindungi dan menyayangi kakak” tutur Anggun
“nggak, kamu harus tetap hidup sama aku, kamu nggak boleh pergi!”
Tiba-tiba, nafas Anggun tersedat, detak jantungnya meningkat, namun masih bisa ngomong patah-patah.
Reva memeluknya dengan erat, seakan tak akan melepaskannya. Anggun juga membalasnya.
“Aku.. mencintaimu… kak”
“aku juga, sangat mencintaimu”
“semoga kau bahagia kak” kemudian Reva merasakan pelukan Anggun semakin merenggang, lalu perlahan tangan Anggun terlepas dari tubuhh Reva.
“Anggun… Anggunnn!!! bangunnnn!!! Kamu nggak boleh pergi!!!´teriak Reva sambil mengguncang tubuh Anggun. Namun Anggun tetap terdiam dengan mata tertutup, tapi seulas senyum tersungging di bibirnya. Bagi Reva, itu adalah senyum termaniis yang pernah dilihatnya, dan tak ada yang memilikinya selain gadis yang saat ini berada di pelukannya.

Minggu, 13 Oktober 2013

Ruang untuk Kita

Selamat malam Tuan yang entah mengapa terasa semakin jauh. Aku datang baik-baik untuk bertanya mengenai hal-hal manis yang kita jalani selama ini. Sejak dua puluh enam agustus tahun dua ribu tiga belas, kamu menyelip dalam ruang hatiku, menjadi sosok baru yang nampaknya menarik jika kunikmati dari berbagai sisi. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu sudah jadi seseorang yang kuhargai keberadaannya, kutunggu pesan singkatnya, dan kurindukan suara beratnya. Kamu sudah jadi teman malamku, sapaan renyah pagiku, dan terik matahari siang yang membakar semangatku.

Kita sudah saling tahu sejak satu tahun lalu. Saat kautahu aku lebih memilih UI dan menanggalkan pengumuman diterima di UGM melalui jalur SNMPTN. Penasaran, itulah caramu menjelaskan awal perkenalan kita. Saat pesan singkatmu menggetarkan handphone-ku untuk pertama kalinya, saat tulisan besar kecil dengan tanda baca penuh itu memenuhi kotak masuk poselku; demi bumi dan langit, aku tak ingin membawa hubungan itu ke jenjang lebih serius. Cukup jadi teman.

Lalu, setahun kemudian kamu muncul dengan gaya baru. Bahasa yang tertata rapi yang membuatku kagum setengah mati. Jaket kuningku bersanding dengan jaket abu-abu kehijauan milikmu. Percakapan kita malam itu diawali dengan membandingkan UI dan UGM, tidak ada ketegangan, hanya rasa canggung yang kurasakan. Aku tak pernah berbicara senyaman ini dengan orang asing yang wajahnya belum pernah kutatap secara langsung. Pembicaraan panas itu merambat ke pembicaraan hangat, saat kauberbicara tentang puisi Chairil Anwar, cerpen Seno Gumira Ajidarma, serta kekagumanmu pada guru besar FIB UI; Sapardi Djoko Damono.

Hampir setiap malam, kamu menjadi bagian dalam hari-hariku, jadi tawa yang membawa damai sebelum tidur malamku. Tak hanya itu, kaudan aku rela terlelap hingga subuh, hanya karena tak ingin saling melepaskan. Terlalu terburu-burukah jika aku mencoba menyebut ini cinta? Jika terlalu tergesa-gesa, lalu apa namanya perasaan tak ingin melepaskan meskipun kutahu kamu tak mungkin berada dalam genggaman?

Dan, kedekatan kita, Tuan, sepertinya memang bukan lagi sebatas teman. Ketika kauberani mengganti "Dwit", menjadi "Ntaa." Singkatan dari cinta, katamu; yang berhasil membuatku muntah pelangi berak surgawi. Oke, jelek, ya, diksi yang kugunakan? Maaf, ya, siapalah aku ini dibanding sastrawan serba misterius seperti kamu?

Awalnya, semua ini baik-baik saja. Sampai pada akhirnya aku tak tahan dengan kelancanganmu menyebut semua penghuni Gembira Loka dan Safari, saat kita bertengkar, soal pesan singkat yang kubalas lama, telepon yang tidak kujawab, dan isi mention bersama seorang pria yang tidak kaukenal. Aku membuka suara, kita sudah bicarakan hal ini berkali-kali. Aku sempat tak ingin membawa semua ke arah yang lebih serius karena kita berbeda, tolong garis bawahi itu, dan kauterima pendapat itu dengan lapang dada.

Awalnya, Tuan, kita membuat kesepakatan, namun nampaknya cinta itu seperti kekuatan brengsek yang membuat aku dan kamu juga ingin melawan dalam ketidakberdayaan kita. Oke, kita sepakat tak pernah membawa semua ini ke dalam hubungan serius, tapi aku dan kamu ternyata mematahkan komitmen itu. Kita berontak, marah sama keadaan, marah dengan jarak, marah sama cinta, marah dengan kesepakatan awal. Aku dan kamu terlalu gengsi untuk membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius. Selain terlalu gengsi, juga merasa belum siap pada jarak, pada perbedaan kita, pada masalah rindu, pada kurang ajarnya sinyal ponsel, pada ratusan kilometer jarak antara Bogor dan Jogjakarta. Kita marah sama siapapun, sama apapun yang membuat aku dan kamu selalu emosi setiap mendengar kalimat "Sebenarnya status kita ini apa? Siapa kita? Apa yang kita rasakan?"

Setelah lelah marah pada keadaan, kamu menyuruhku untuk mencari penggantimu. Aku tertawa, bergelak kencang sekali. Lalu, setelah tawaku diam, kamu berikan alasan. Kamu ingin lihat aku bahagia dengan yang lain, agar kamu punya alasan untuk melepaskanku dan tidak lagi mengharapkanku. Aku tertawa semakin geli, tapi mataku basah karena tertawa terlalu kencang. Kusambut saranmu dengan menyuruhmu juga mencari yang lain, agar aku bisa melepaskanmu dan melihatmu bahagia; meskipun kebahagiaanmu tidak lagi membutuhkanku.

Sekarang, rasanya keinginan kita sudah terwujud. Keinginan dua orang bodoh yang terlalu gengsi menyatakan perasaan, terlalu takut meminta kejelasan, dan terlalu takut melawan keadaan. Kamu entah dengan siapa sementara aku dengan dia. Hahaha! Terluka.

Ini bodoh, sungguh, maksudku apa susahnya bilang kalau aku dan kamu inginkan penyatuan? Punya satu tujuan? Mau saling memperjuangkan? Iya, berbicara cinta dan sayang memang tak mudah, tapi bukankah lebih menyakitkan jika kita hanya bisa saling gengsi, saling diam, tapi juga cemburu? Bukankah lebih menyedihkan jika aku dan kamu hanya bisa tertawa sebenarnya kita sangat tersiksa?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi dua orang yang saling mencintai tapi mereka termakan gengsi sendiri? Bisakah kaurasakan sakitnya dua orang yang saling merindukan, tapi hati mereka tak saling menyatukan? Tuan, bisakah kauresapi air mata dua orang yang saling berjauhan hanya karena mereka takut pada arus cinta yang semakin dijauhi justru semakin deras?

Hatimu sudah jadi milikku, hatiku sudah jadi milikmu. Namun, mengapa aku dan kamu tak kunjung menciptakan ruang untuk kita? Ruang tempat kita saling memahami juga mencintai, tanpa harus memerhatikan gengsi yang mematikan semua urat-urat hati.

untuk yang selalu percaya
saya tak punya cinta
saya tak pernah punya rindu
saya tak punya perasaan
Padahal, diam-diam;
dia sudah jadi segala– dalam kepala.

Jumat, 11 Oktober 2013

Biography Lamb Of God

There are metal bands and then there is Lamb of God.



A new breed of modern American metal was erected in the 2000s, with Lamb of God serving as an architect, designing the blueprint that would become the standard by which bands that came after them would be judged. So often, the European metal scene has set the tone and established the creative high watermark of the global metal scene, providing the template that their American brethren would follow. Then Lamb of God came along and all bets were off.

It was Lamb of God who rewrote the rules, devised a new playbook and raised the standard. The genre was forever and irrefutably changed by what the band has done.

By the mid-00s, there was a full metal Renaissance, if you will, in America, with the genre enjoying several years of renewed success and critical respect. Lamb of God worked to establish themselves without question as the scene's alpha males, dominating at every turn, leaving a parade of other acts to merely feast on their leftovers and scraps. Mind you, this was not a scene, style or era populated by middling acts. The era was filled quality bands and still, it was Lamb of God who defined the time period and that quickly ascended as the game changers and torch bearers. No. Questions. Asked.

Turns out, they've merely nicked the surface of what they can do and plan on accomplishing.

In 2012, Lamb of God remain the pre-eminent metal band and not by default, either. The scene is still healthy, even if some of the peers who stood shoulder-to-shoulder with them during that period of growth have fallen by the wayside. Lamb of God still reign atop of the genre thanks to their consistent ability to feed fans with only the best extreme metal there is. Their seventh album Resolution finds the band firing on all cylinders and doing things their way. As if we'd expect anything less from this Virginia wrecking crew.

With a rich history including three Grammy nominations, an invitation to tour with Metallica (which they did in 2008 through 2010 on the World Magnetic trek); multiple debuts in the Top 10 on the Billboard Top 200 (2009's Wrath debuted at No. 2 while 2006's Sacrament debuted at No. 8); multiple Platinum-selling DVDs (Killadelphia and Walk With Me in Hell); an arena tour with Slipknot (which took place in 2005); the main stage of OZZfest (2006) and wearing the fact that they were banned in Los Angeles (the Forum had a problem with their name and booted them off the bill of two shows, one with Slipknot and one with Metallica) as a badge of honor, there's no question that Lamb of God rule the metal roost. Everyone else is left to watch and marvel, and choke on their dust. However, they're not resting on past successes or what they've done. For Lamb of God, what happened in 2002 happened in 2002. It's about the right now and what's next: Resolution.

With Resolution, Lamb of God emerged from their haven in the South as powerful, as hungry and as extreme as ever. While most bands are running on fumes or coasting and sputtering to album No. 7, Lamb of God are reinvigorated. They still have something to say and more to prove…to themselves and no one else. This sonic terror squad has come along way from playing squats in basements as Burn the Priest with one constant element: the instinct to make legit, honest music their way, which is just what they've done with Resolution.

“The first and foremost thing that you have to realize about LOG is that we do exactly what we want, when we want, and how we want to," declares vocalist Randy Blythe. "We always have and we always will. That’s why each record is a snapshot in time. We never consciously sit down and say 'We’re going to keep it heavy. We’re going to keep it metal.' We just do that because that’s what we want to do. If we felt like putting out a polka record tomorrow, we would. We’re trying to make 'smart' heavy music.”


Point taken and mission most certainly accomplished with Resolution, a 100 percent trend-free and intelligently constructed album that could power a small country with its unstoppable energy and potent riffery. In a scene littered with "here today, gone tomorrow" bands, Lamb of God have survived because nothing stops them from staying the course they've purposely chosen to embark upon. They're not here to collect a check or respond to a label exec's request to pen a "radio song." It's none of the above for Lamb of God. The men that comprise the band are a little older now, a lot wiser and have families to support. Yet despite all those realities, making this music and making it their way is something that compels them, drives them and sustains them.

“You can still be a band that goes to the practice space, actually writes music together and then records. Being an actual band is still a viable option," Blythe says. "Bands are disappearing with digital recording today. Things are progressing to the point where people are just playing a riff or pattern and programming the drums, and at the end of the day, they have a technically perfect record, but it isn’t a real record. We didn’t do that. Our record is a REAL record.” Indeed, there is blood and adrenaline coursing through every vein of Resolution and its pulse will be felt by all who listen. It's an incredibly human record.

"We're not spitting out a Lamb of God template record," guitarist Mark Morton says. "If it's uninspired or you have nothing left to say, you stop. We're all putting other things in life off to do this, and we're not going to do it if gets boring to us. It's still exciting on our seventh studio record. We're still gaining momentum and getting better." That's not a quality you come across often with aggressive bands. Playing physically taxing music at full tilt leads to wear and tear on the body and the mind, but Lamb of God are not affected by such issues. They're like mutants made stronger by challenging themselves. While 2009's Wrath was sonically forceful enough to shift tectonic plates, Resolution finds the band knocking out their songs with the signature groove and swagger that made them heir apparent to Pantera's throne --an accolade left at LOG's doorstep by critics over time-- but with a little more refinement and attention to dynamics.

Overall, Morton feels that Resolution is the natural next chapter in his band's history, albeit one that harks back to the past, saying, "It almost completes the circle. There is a purity in the music, like when you first begin and you don't have those big aspirations, in a business sense, other than to play."

Drummer Chris Adler, long regarded as one of the most jaw-droppingly talented and proficient rhythm keepers in metal concurs, "Wrath was a bit of a first round knock-out punch to the face album and was purposefully very aggressive. Resolution is much more of a dynamic album.” He also feels that Resolution is born of the desire to surprise himself along with the fans who are happily along for the ride. He says, “A lot of bands get to the point where they put out seven or eight records and fans start to take them for granted. They aren’t the 'cool guys' anymore. I’m not immune to that, and we wanted to push ourselves and surprise ourselves by not resting on prior successes and by default surprising our fans.” Even so, he's not interested in following any sort of trends. He continued, “The biggest thing is that we don’t all want to be the next 'fill in the blank.' We don’t have a unified influence as a band. Because of that, our approach and our sound is slightly different than most bands. We fight and argue which makes it a more honest process.” As bandmate Blythe said earlier, Lamb of God, as an entity is like a living, breathing creature, not one that is plugged in.

The desire to maintain a "personal best" also keeps Adler and his bandmates at the very top of their game this deep into an enviable career. “What inspires me is to outdo the 21-year-old that I was," he states. "I have to prove to myself that I am still a player in this game and keep up with the best. As a band it was important to us to prove to ourselves that we have something left to offer. We don’t need to put out records anymore, but we want to put out records. We don’t want to tarnish the legacy of the band, so whatever we do has to be stronger than what we’ve done. And we’ve done it with Resolution.”

As Blythe decreed, the fact that the band owns the same goals since their humble beginning is what makes the album so real. Bassist John Campbell says, “Putting out heavy music has been our aim since we started this. We wanted to be a great, heavy band. It was never a thought to us that this would be conceptual commercially. We’re all the original members and this is what we do. This isn’t a contrived business thing to get famous and make money. Our core value is to write heavy music, and I think that’s what makes a great band.”

Amen to that!

So with that mindset firmly and collectively in place, when it came time to write and record Resolution, and to get into the the guts of the album, the band elected to let producer Josh Wilbur become involved sooner, to direct what was flowing out of them, egos be damned. "We did incorporate Josh [Wilbur] a bit earlier in the process this time around," guitarist Willie Adler says. "To have an objective ear early on in the process allowed us to sideline our egos at times and really drive for the best shit possible. We also wanted, as far as guitars are concerned, to really capture our live tone to record.”

Morton also revealed that the band did try something new and different with Resolution. “Unlike any other album before, this album was written over the course of a couple of years, at least with the guitars. Willie and I starting songwriting as soon as we started touring with Wrath," instead of their usual M.O. of touring writing upon their return from the road. "Due to having the recording software, we were able to take down ideas," he says about the head start. As a result, Resolution boasts some of the most punk rock moments and some of the bluesiest moments of the band's recorded career, perhaps fostered along by the liveliness of the writing-on-the-road process.

The album may display some of the band's deeper and less obvious influences, but Chris Adler is quick to assess the album's frantic energy. You can feel tension and release in the songs, making the album as a whole a truly cathartic experience. He says, “We really were living on a bit of the edge of our capabilities. There are some frantic moments in the music; they sound almost panic-inducing. The album is overwhelmingly aggressive and will definitely get people off their asses and driving fast.”

Blythe, he of the booming, bellowing voice, is known for spitting out provocative verses in a militaristic, almost drill-sergeant style bark. His voice and his style demand and command your attention. What he declares in the space of his lyrics isn't always comfortable –for him or for you- but he will always make you think about what he is saying. "I’m 40 years old, and I’m just now really getting some clarity on where my place in my life is," Blythe admits. "This is about me getting clarity after partying for a long amount of time, looking at my life and saying 'This is where I am, where do I want to go now?'"

Asking that question, which is something more than a fair share of the band's red-blooded, average American fans are likely to pose to themselves, allowed the singer to enter an entirely different zone on Resolution. While he may have experienced discomfort, LOG ended up with a better and more honest record for it. He continues, "It’s an introspective record and goes over some uncomfortable things for me. I hope people that hear those lyrics will look at themselves and look at the world around them and say 'This is where I am, I don’t like this.' and try to invoke a change in themselves. My overall feeling for this record is 'awakening.'"

The singer admits that he was attracted to underground, aggressive music in his youth because it offered a voice of dissent, one that he could relate to, so he attempts to distill that same feeling into Lamb of God. "That’s what I’m trying to put forth in my music," he says. "Not everything is really okay. You can have your cable TV and Xbox in your car or whatever, but that doesn’t mean that everything is okay and you can just stop because it’s easy. The root of what I try to put forth lyrically is 'Think for yourself.' Do something, do anything.” And that's precisely what bonds Lamb of God to their legion of loyal fans that have stuck with them for seven albums. Well, that and those bludgeoning riffs and technically proficient grooves have something to do with it, as well!

While Resolution admittedly contains some of "the swampiest, sludgiest stuff" of their career, according to Morton, as well as some of the aforementioned "most punk" songs they've ever laid to tape, the album also boldly goes elsewhere and features strings, orchestral movements and bluesy, acoustic guitars living among the band's patented, potent groove and swagger. The song "Insurrection" is a signature, natural and instinctive moment for Chris Adler, who revealed the song was born when the group was locked together in a room and tasked with seeing what it could come up with.

Album closer "King Me" is a real showpiece on an album full of showpieces. As Resolution's punctuation mark, it's a beautiful piece of music from grizzled, meat-and-potatoes-peddling veterans. It was purposely placed at the end of the album, as an unexpected pay off for the fan who spent an hour of his or her life listening to what came before it. Even though Lamb of God make music that could put hair on your chest, underneath the buzz of the guitars, the thunder of the percussion and the ferocity of the vocal declarations, this is still thinking man's metal.

""King Me' is an epic song," Blythe declares without hesitation. "It fits that definition, there’s no way around it. When a song is an epic song, you want to make it as big as possible, which is what we did with the opera singer and the string incorporation." Morton shared a little more about the process and how they arrived at such an "epic" moment, saying, "This isn’t necessarily us changing our songwriting approach or the method, but we really stretched out in the way we 'treated' the songs. Those are things that are added to the song after the fact, but they have a very impact on the overall sound. I don’t think we looked at it as 're-inventing' ourselves; it’s really as simple as that we’re continuing to strive to make music that we’re interested in and that we’re challenged to play, and that we enjoy performing.”

Now that Resolution is in the books and has asserted its rightful place as one of the most cohesive, dynamic and boot-to-the-throat heavy albums in Lamb of God's already extensive body of work, complete with epic and provocative moments, the goal remains singular: to move fans and connect with them, all the while creatively stimulating themselves. Lamb of God are pleased with the album. The only question mark is the fans and judging from the heft and the intensity of Resolution, there will be nothing but pleased fans once they get a load of the album.

Willie Adler said, "To see someone who has really been touched by the music is inspiring to me. Regardless of what emotion they’re feeling, what they’re going thru in their life at that moment, as long as they feel something, I feel as though I’ve done my job.” It's true that Resolution has the capacity to connect with its listener on multiple emotional levels, in addition to the sonic one.

Perhaps Morton sums up Resolution the best: "If it doesn't make you want to push the accelerator to the floor a little harder, flip off a cop or throw a bottle against a brick wall, then I haven't have done my job."

Few bands can craft an album that's as thoughtful as it is visceral. One is often sacrificed in favor of the other. But such is not the case here. Lamb of God have managed to create a masterwork that allows the listener to unlock layers of sound and meaning on each consecutive listen.

There's a whole host of reasons that Lamb of God remain at the top of their game in 2012, while others have faded and fallen away. Resolution is evidence of the band's stronghold on heavy metal in 2012. None can match it, nor do they come close.

In 2012, and with Resolution, Lamb of God has earned their place in the metal pantheon.

Minggu, 06 Oktober 2013

Tips Tattoo

tips tattoo : Hati-hati jika anda merajah kulit jangan asal-asalan tanpa memperhatikan kesehatan, karena bisa menyebabkan terinfeksi hiv, hepatitis c dan lain lain. Pastikan semua serba baru bukan hanya Jarum, tapi semuanya harus Segel, dan Pastikan anda sendirilah yang membuka segel tersebut sebelum Bertattoo, dan jgn lupa lihat dulu Portfolio dari Artist Tattoo tersebut, thanks GOOD TATTOOS ARE NOT CHEAPS, CHEAPS TATTOO ARE NOT GOOD.

Nih tips dari RAUHA TATTOO

Jumat, 04 Oktober 2013

Suicide Silence - New Vocalist

Suicide Silence Officially Announce Eddie Hermida (All Shall Perish) as New Vocalist



Rumors surfaced on Wednesday that Suicide Silence had tapped Eddie Hermida of All Shall Perish to fill their vocalist spot, just short of the one-year anniversary of Mitch Lucker’s tragic death. Later on they posted an audio snippet of a song with a mystery vocalist. Rumors they are no more: according to Lambgoat – who also broke the initial story on Wednesday – the band has officially announced the move, with a new promo photo (above) and all.
Here’s a statement from the band via Facebook half an hour ago:

Suicide Silence is pleased to announce the addition of Eddie Hermida to the family. Many of you may be familiar with Eddie through his work with All Shall Perish. For those of you unfamiliar, our relationship with Eddie goes way back to the Spreading Disease Tour, our first U.S. headlining run, in 2006.
Mitch and Eddie remained long-time friends and we felt that if the band were to continue it should be with someone Mitch knew personally and respected as both a friend and an artist. We’ve chosen Eddie as our new frontman in association with this long-standing relationship and countless other attributes from his quality of character to his dynamic vocal abilities that make him the absolute best fit for this band. We hope you all will embrace this decision with open arms understanding that this is what Mitch would have wanted. He would want his brothers to stick together & carry forward what he helped create. Every time we step on stage it will be in his honor and for his legacy. Suicide Silence will continue.

As we said on Wednesday Hermida certainly makes a whole lot of sense, although we’re still uncertain what the future holds for All Shall Perish. [Update: He has left All Shall Perish. Read ASP's statement here. -Ed.] Can Hermida pull double duty in two actively touring bands?
No word yet on immediate touring or recording plans for Suicide Silence.

Minggu, 29 September 2013

Slipknot - Heretic Anthem

I'm a pop star threat and I'm not dead yet
Got a super dred bet with an angel drug head
Like a dead beat winner, I want to be a sinner
An idolized bang for the industry killer
A hideous man that you don't understand
Throw a suicide party and I'm guaranted to fucking snap
It's evilsonic, it's pornoholic
Breakdowns, obscenities, it's all I wanna be

If you're 555, then I'm 666
If you're 555, I'm 666
If you're 555, I'm 666
(What's it like to be a heretic?)
If you're 555, I'm 666

Everybody's so infatuated
Everybody's so completely sure of what we are
Everybody defamates from miles away
But face to face, they haven't got a thing to say
I bleed for this and I bleed for you
Still you look in my face like I'm somebody new
TOY - nobody wants anything I've got
Which is fine, because you're made of
Everything - I'm - NOT

If you're 555, then I'm 666
If you're 555, I'm 666
If you're 555, I'm 666
(What's it like to be a heretic?)
If you're 555, I'm 666

30 seconds, 16, 8, 4, lemme tell you why
I haven't the slightest, I'm teaching your brightest
They're listening, clamoring
All the money in the world can't buy me
GO AHEAD, LIE TO ME
Tell me again how you're tortured
I wanna know how you followed your orders so well
You're full of SHIT
You had a dream, but this ain't it

Sabtu, 28 September 2013

Icona Pop - I Love It (I Don't Care)

I got this feeling on the summer day when you were gone.
I crashed my car into the bridge. I watched, I let it burn.
I threw your shit into a bag and pushed it down the stairs.
I crashed my car into the bridge.

I don't care, I love it. I don't care.

I got this feeling on the summer day when you were gone.
I crashed my car into the bridge. I watched, I let it burn.
I threw your shit into a bag and pushed it down the stairs.
I crashed my car into the bridge.

I don't care, I love it. I don't care.

You're on a different road, I'm in the milky way
You want me down on earth, but I am up in space
You're so damn hard to please, we gotta kill this switch
You're from the 70's, but I'm a 90's bitch

I love it!
I love it!

I got this feeling on the summer day when you were gone.
I crashed my car into the bridge. I watched, I let it burn.
I threw your shit into a bag and pushed it down the stairs.
I crashed my car into the bridge.

I don't care, I love it.
I don't care, I love it, I love it.
I don't care, I love it. I don't care.

You're on a different road, I'm in the milky way
You want me down on earth, but I am up in space
You're so damn hard to please, we gotta kill this switch
You're from the 70's, but I'm a 90's bitch

I don't care, I love it.
I don't care, I love it, I love it.
I don't care, I love it.
I don't care, I love it, I love it.
I don't care.
I love it

Kamis, 26 September 2013

My Edelweiss

Dimulai dari langit yang sangat gelap dipenuhi taburan bintang yang bersinar , aku berada di sebuah mobil yang terus berjalan menyusuri beberapa kota menuju Gunung yang akan didaki. Diam dengan rasa lelah kami beristirahat sejenak dengan beralaskan matras dan diselimuti parasit menghabiskan sisa malam.

Terlihat jelas sunrise yang begitu indah. Tepat didepanku terhampar luas lautan berwarna hijau berbentuk segitiga sehingga terlihat jelas jalur – jalur yang berliku. Aku bersama sahabat – sahabatku mulai merapihkan peralatan dan persiapan pendakian. Aku mulai menyusuri jalur yang terus beranjak seperti ular tangga. Semangat pendakian bersama sahabat - sahabat yang tak kenal lelah dan memiliki sebuah mimpi berada diatas puncak dengan langit senja berwarna merah tembaga.

Pepohonan hijau, udara yang segar membuat aku dan sahabat – sahabatku semakin semangat menyusuri jalur itu. Akhirnya kita tiba disebuah puncak yang dikelilingi padang luas berwarna biru dan putih. Aku mencoba berteriak sambil melompat-lompat dan berpelukan bersama sahabat-sahabatku. Kemudian mataku terarah pada sebuah bunga berwarna putih suci sebagai symbol keabadian, aku berniat memetik dan menyimpannya untuk seseorang yang aku cintai. Senja pun tiba, aku dan sahabat – sahabatku berniat untuk pulang, setengah perjalanan sudah ditelusuri dan aku tersandung pada sebuah bongkahan batu yang besar sehingga aku terperosok disebuah jurang yang sulit aku ketahui seberapa dalamnya. Aku berteriak meminta pertolongan, sahabatkupun mulai sigap menolongku dengan sebuah tali. Aku merasakan kesakitan saat bejalan dan tubuh yang tidak sanggup untuk aku gerakan. Hanya satu yang ingin aku selamatkan saat itu adalah bunga keabadian.

Keadaan yang sulit aku ungkapkan karena kejadian di gunung itu. Terbaring lemas aku di rumah sakit dengan tubuh yang sulit sekali untuk digerakan. Saat aku membuka mata ada sosok wanita berambut bergelombang seperti ombak dengan mata yang sembab. Aku mencoba mengerakan tanganku agar dia sadar bahwa aku ingin menyentuhnya, Wanita itu ternyata sahabat terbaikku. Tangisan yang tak henti-hentinya, sambil mencoba menggenggam tanganku. Aku berusaha berkata, agar sahabatku mengerti dan mencoba memahami apa yang aku katakan. Dia meninggalkanku, mengambil celana yang aku pakai saat pendakian dan mengambil setangkai edelweis dari kantongku yang akan diberikan kepada seseorang yang aku cintai. Sahabatku menangis, memelukku dan berjanji bunga keabadian ini adalah symbol keabadian cintamu terhadapnya

Jumat, 13 September 2013

@Vikibmx

>> yeyyyy, sekarang tweet gue yang di retweet and di favorite sama temen nya si @terryadamsbmx :D;) xixixi
>> now my tweets are retweets and favorites in each of his friends @terryadamsbmx



>> terus muncul deh di timeline nya dia ;):D
>> and finally, my tweet appeared on his timeline



Ini blog kan blog gue, jadi serah gue dong mau nge share apa aja di sini ;) enjoyy!!
pengen tau dia lebih lanjut? mending follow aja twitter dia @Vikibmx ato gk emmmmm buka aja link punya dia www.vikigomez.com

Rabu, 11 September 2013

10 Pro BMX Riders

1) Name: Terry Adams
Date of Birth: Augast 9, 1983
Place of Birth: Hammond, LA, USA
Bio: “Hot Blooded”.Terry started competing in his youth and climbed to the top. He knows how to represent emotions and passion on the bike, and crowds are always entertained by his riding. Terry is the winner of Redbull Fight With Flight in 2008, the winner of NORA cup hosted by Ride BMX magazine in 2005, and the winner of Flatground 2006 in Amsterdam.
Sponsors: ODYSSEY, Lotek, Raising Cane’s, Flatware, Dans comp, Redbull
Results: 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend Standings, 4th. 2009 1st place, Red Bull Fight With Flight: Indianapolis, Indiana, 1st place, BMX Games: Sydney, Australia


2) Name: Aaron R
Marital Status: Single
Resides In: Corpus Christi, TX
Participant since: 1996
Age: 27
Competitor since: 2005
Height: 6'0"
Weight: 195 lbs
Country: USA
Sponsors: ODYSSEY, Redbull


3) Name: Matthias D
Date of Birth: May 6th, 1989
Hometown: Paris, France
Bio: “Genius In The Making”. With difficulty, perfection, and expressiveness, he rises to the top of the flatland with his youth. Who is going to defeat him? Mattias is the champion of BMX Flatland World Circuit Championship (BFWC) 2008 and 2009 including numerous wins in international competitions.
Sponsors: Red Bull, Adidas, Eastpak, Pull-In, Stereo Panda, KOXX and La Crémerie
Results: 2008, 2009 BMX Flatland World Circuit Champion. 1st place, Ninja Spin, Monaco, 1st Place King of Ground (Japan), 1st place, Voodoo Jam(USA)


4) Name: Tsutomu K
Date of Birth: December 18th, 1984
Place of Birth: Ikebukuro, Tokyo, Japan
Bio: “Style Cat”. Tsutomu has a remarkable expression by nature for the required artistry of Flatland. His riding style is some sort of tensed up srt form as well as
highly skilled tricks. In the current season, his completeness of skills leads him to the championship round for any contest. Tsutomu would pose a major threat to his rivals in contests.
Sponsors: DC Shoes, Fourthirty, A bad thing, SDG.A&F.Koxx.Hommage


5) Name: Raphael Ch
Date of Birth: March 20th, 1984
Hometown: Paris, France
Bio: “Sexy French”. Not only his appearance, but also his riding skill is classic as he is. The winner of the 25-year-old traditional contest in Germany, “The Worlds” in 2009. With rear-wheel-based speedy riding, Rafael uses gestures to rile up the crowd to feverish pitch.
Sponsors: Monster Energy Drink, A bad thing
Results 1st, 2009 BMX World(Germany)、7th, 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standings


6) Name: Viki G
Date of Birth: March 7, 1981
Hometown: Madrid, Spain
Bio: His appearance and style impressed riders all over the world with his coverage on the media.Currently, he is into Zen for mental training and stately shows his fighting spirit. Viki is the winner of 2002 and 2007 RedBull Circle of Balance (COB).
Sponsors: RedBull,Costo, Innertwine Clothing, Odessa Footwear
Results: 2002,2007 Redbull Circle of Balance 1st, 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standings 3rd


7) Name: Yohei Uchino
Date of Birth: September 12th, 1982
Hometown: Kobe, Hyogo, Japan
Bio: “Young Charisma”. After his victory of the KOG 2005 Kobe round, he decided to make living as a professional rider. With combination of his athletic talent through Mogul ski and swimming, and creativity always exceeds our expectation. It is just what we would expect. He is currently 2nd place in BMX Flatland World Circuit 2009 ranking. Uchino is the winner of 2nd round of BMX Flatland World Circuit in the US.
Sponsors: Red Bull, Puma, Murasaki Sports, A bad thing, SPACEARK
Results: 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standings 2nd, 1st place, Voodoo Jam 2008(USA)


8) Name: Shintaro M
Date of Birth: December 23rd, 1980
Hometown: Machida, Tokyo, Japan
Bio: Misawa should be called “Craftsman” for his incomparable and accurate tricks. He is one of the most stable riders who is always in the top ranks in world class contests. Misawa’s strict attitude for riding impresses and convinces everyone that Flatland is a pure athletic sport.
Sponsors: ColonyBMX, SEV-sports, Coopervison, ZEROFIT, SEQUENCE.
Results: 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standigs 6th、2009 King of Ground Yearend Standings 3rd、2007 BMX Flatland World Circuit Yearend Standings 2nd


9) Name: York Uno
Date of Birth: May, 26th, 1975
Hometown: Kanazawa, Ishikawa, Japan
Bio: “The Pioneer”. York has been a missionary of Flatland. Living as a professional BMX rider was just a dream. He built up the current BMX scene from nothing. His perfectly polished riding attracts everyone as well as riders. Even non-BMX related scene also recognizes him as an expressionist. York is the winner of Asia X-Games 2004 and the champion of KOG 2006.
Sponsors: Ares bykes
Results: 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standings 8th, 2006 King of Ground Champion, 2004 AsianX-Games 1st


10) Name: Hiroya M
Date of Birth: Janualy 4th, 1978
Hometown: Tokushima, Japan
Bio: “The King”of BMX Flatland both in name and reality. With uncommon approach to the trick and artistry, he always has the attention of riders. His original “Air trick” is a must to see. Morizaki is the champion of KOG 2001 and 2008, and the champion of BMX Flatland World Circuit 2007.
Sponsors: Ares bykes
Results: 2009 BMX Flatland World Circuit Yearend standings 5th. 2007 BMX Flatland World Circuit Champion, 2001, 2008 King of Ground Champion

Selasa, 10 September 2013

Amsterdam Ik Hou Van Je

“Jauh-jauh ke Belanda akhirnya naksir pemuda Jogja juga? Keterlaluan sekali! Kalau Sasmita tahu, dia pasti meledekku,” gumam Anggi lagi.
Lalu ia menertawai dirinya sendiri.

“Oh…apalagi jika Ragil dan Laras tahu…ah, mereka pasti akan menertawaiku habis-habisan,” lanjut Anggi bicara pada dirinya sendiri.

Bisikan musim gugur, daun-daun berubah warna, berjatuhan diterpa angin. Seperti rasa ini, yang jatuh ke sudut hatimu

Salju pertama, saat hamparan putih membekukan, dan selarik cinta di sudut hati semakin menghangatkanku

Takdir membawaku kembali padamu. Saat kau tawarkan keceriaan dalam kebersamaan mengayuh sepeda beriringan menyusuri Kota Leiden.

Semarak bunga tulip warna warni di Keukenhof menebarkan aroma cinta. Hanya kau dan aku, jangan pedulikan orang ketiga di antara kita.

Bermula di Jogja, bermuara di Amsterdam. Perjalanan cinta Anggi yang jatuh pada Ryuga. Musim berganti, akankah cinta Ryuga pada Anggi turut berganti? Cinta jua, yang membuat Anggi kembali ke Jogja, berharap disambut senyum menawan kekasih hati. Namun harapan tinggal harapan. Kembali ia menjalani hari-harinya yang sendiri di Amsterdam. Sampai di suatu hari tak terduga, Ryuga kembali hadir...

“Ik hou van je. Aku mencintaimu...”

Kali ini ucapan itu terdengar meyakinkan.

oOo

Senyum Anggi merekah, dengan penuh percaya diri ia menghampiri Ryuga dan Pieter. Dua lelaki itu berdiri berdampingan. Dua-duanya memiliki binar mata yang sama saat keduanya memandangi Anggi. Binar mata yang membuat Anggi heran, mengapa kedua lelaki itu tampak senang sekali melihat kedatangannya?
“Anggi!”
“Enji!”
Ini hal kedua yang membuat Anggi tersenyum. Kedua lelaki itu menyebut namanya berbarengan, tetapi Ryuga memanggilnya Anggi sedangkan Pieter memanggilnya Enji. Dan kini kedua lelaki itu yang tampak sama-sama heran kemudian saling pandang.
“Goede morgen, Pieter, Ryuga,” balas Anggi seraya tersenyum menahan geli.
“Kalian saling kenal?”
Lagi-lagi kedua pemuda itu mengucapkan kalimat yang memiliki arti sama secara berbarengan tetapi dalam bahasa berbeda, Ryuga dalam bahasa Indonesia, sedangkan Pieter dalam bahasa Belanda. Kali ini Anggi tak kuasa menahan tawanya menyaksikan tingkah kedua pemuda itu.

oOo

“Berhari-hari aku memandangi lukisanku A Girl From Jogja, dan kemudian sadar, aku jatuh cinta pada lukisanku sendiri. Aku menyukaimu, Enji. Enji, maukah kau menjadi kekasihku?”
Jantung Anggi berdetak lebih cepat. Siapa yang sanggup menolak lelaki seindah Jayden? Serta sikapnya yang romantis? Anggi merasa ia pasti sudah gila, saat beberapa detik kemudian ia menjawab,
“Ya, aku mau menjadi kekasihmu, Jayden.”
Kemudian Anggi merasakan dunia seolah berhenti berputar selama beberapa menit.

oOo

Amsterdam Ik Hou Van Je, artinya Amsterdam Aku Cinta Kamu.
Kisah Anggi, gadis Jogja yang berkesempatan tinggal, belajar dan bekerja di Belanda. Terinspirasi kisah sepupuku yang kini telah tinggal di Belanda selama 14 tahun lamanya. Di dalam novel ini juga ada beberapa kosakata Belanda untuk semakin memperkuat kesan Belanda dalam kisahnya. Ditambah data referensi tentang negeri Belanda dari beberapa sumber.

Informasi tentang Belanda memang kudapatkan dari cerita sepupuku, namun tetap ada beberapa data yang menurutku perlu kutambahkan, karena itu aku memang menambahkan data referensi untuk tempat dan benda yang kudapatkan dari berbagai sumber. Seperti tentang taman bunga Keukenhof, tentang kereta Thalys, yang memang kereta berwarna merah, aku pun telah melihat fotonya, tentang sepeda, tentang perpustakaan Leiden dan tentang gedung-gedung yang ada di Belanda.

Perjuangan Anggi, terinspirasi dari perjuangan sepupuku Nany Rahayu, hingga akhirnya bisa sukses hidup di Belanda. Kisah Anggi kuramu dengan imajinasiku, kutambahkan kisah romantisme antara Anggi dengan Jayden Merkel, Pieter de Boer dan Ryuga Abimanyu. Tentunya aku menambahkan referensi data untuk melengkapi keseluruhan cerita. Menurut beberapa penulis senior, itu boleh saja.

~~~ Amsterdam Ik Hou Van Je, artinya Amsterdam Aku Cinta Kamu.
Kisah Anggi, gadis Jogja yang berkesempatan tinggal, belajar dan bekerja di Belanda. Terinspirasi kisah sepupuku yang kini telah tinggal di Belanda selama 14 tahun lamanya. Di dalam novel ini juga ada beberapa kosakata Belanda untuk semakin memperkuat kesan Belanda dalam kisahnya~~~

Senin, 09 September 2013

Setelah satu setengah tahun :')

Seperti satu setengah tahun yang lalu, aku menunggumu di depan Pasar Prawirotaman. Siang itu, Jogja begitu terik, panas matahari cukup menjadi penyebab keringat di pelipis. Aku menunggumu sambil sesekali melihat jam tangan. Ketika suara sepeda motormu terdengar, aku segera menegakan kepala. Kamu sudah ada di depanku masih dengan sepeda motor yang sama.

Tubuhmu terlihat lebih berisi, rambutmu masih begitu; gondrong sepinggang. Rambutmu yang lebat selalu kausembunyikan di dalam bajumu ketika kamu mengendarai sepeda motor. Bola mata kita bertemu, “Rupanya, kamu sudah jago dandan, Dik.” ucapmu dengan suara yang khas. Disapa dengan kalimat menyebalkan itu, aku hanya membalas dengan senyum dan segera menaiki sepeda motormu.

Kali ini memang berbeda dengan satu setengah tahun yang lalu. Setiap bertemu denganku, kamu selalu membawa setangkai mawar putih dan keromantisan itu kubalas dengan memukul lembut helm-mu menggunakan setangkai bunga mawar itu—ucapan terima kasih dalam bentuk berbeda. Aku mendapati diriku yang juga berbeda, aku tidak berani mengajakmu bicara banyak. Dan, inilah yang membuatku merasa kita sudah berjarak.

Sesampainya di rumahmu, aku bertemu ibumu. Lantas, terjadi percakapan antara tiga orang, percakapan yang tak selalu terjadi setiap hari. Ibumu bertanya soal alasanku lebih memilih UI daripada UGM, memperbincangkan soal kabar terbaru di Jogja, lalu kita tertawa bersama ketika ibu membuka kedokmu. Kata beliau, akhir-akhir ini kamu suka membuat kue sendirian. Aku tidak kaget, karena menurut hasil pengamatan diam-diam yang kudapati dari akun facebook-mu, memang benar kalau kamu sedang rajin-rajinnya membuat kue. Kita tertawa bersama, tawa yang kurindukan selama satu setengah tahun ini, dan barukali ini aku bisa kembali merasakan tawa itu.

Ibu pamit masuk kamar karena ingin menyetrika. Langkah ibumu santai meninggalkan kita, sayup-sayup langsung kudengar suara penggalan nyanyian dalam film Mohabbatein. Iya, sepertinya film Mohabbatein hari itu tayang ulang. Di saat yang sama, aku dan kamu hanya berdua di ruang tamu. Kita tak banyak bicara, sesekali mengalir pembicaraan tentang agama, lalu diam lagi. Berikutnya, mengalir pembicaraan tentang budaya, lalu membisu lagi. Setiap aku berbicara dan tertawa, seringkali kamu berkata, “Suaramu terdengar jauh lebih riang.”

Jujur, aku tak tahu cara menjawab ucapanmu itu, aku hanya tertawa, walaupun sebenarnya aku tak paham apakah yang kaubicarakan mengandung makna konotasi atau denotasi. Kita berbicara santai saja, meskipun harus kumaklumi hadirnya suara raungan orang utan yang berasal dari Gembira Loka. Kebun binatang yang ada di dekat rumahmu. Aku mulai mengganti topik baru, membuka percakapan tentang surat-surat yang pernah kaukirim dan masih kusimpan. Ketika sampai pada pembicaraan mengenai 1 September 2010, tanggal jadian kita, aku memang tak bisa berkomentar banyak. Jurang pemisah itu memang ada dan aku tak tahu mengapa perubahan ini terasa begitu asing bagiku.

Aku tak merasa kita pernah putus, nyatanya kita memang masih berkomunikasi. Aku tak tahu selama ini apa yang kita jalani, status kita begitu abu-abu di mataku. Entah aku ini temanmu, pelarianmu, kekasihmu, atau adikmu. Ketika dijauhkan jarak, aku merasa ada rindu dalam setiap percakapan kita di telepon. Ada cinta yang kautunjukkan dalam setiap goresan pena di kertas suratmu. Aku tak mengerti apakah itu sungguh rindu dan cinta, atau semua hanya omong kosong belaka yang dikemas dengan begitu sempurna.

Matahari sudah mulai bersembunyi dari langit Jogja. Aku dan kamu sepakat untuk mengunjungi tempat kencan pertama kita. Mister Burger di Jalan Sudirman. Sore itu, kita kembali membelah jalanan Jogjakarta dengan sepeda motormu. Setiap berhenti di lampu merah, kamu menyanyikan lagu andalanmu dengan lantang, “Akulah putra SMA De Britto. Gagahlah cita-citaku Murni sejati jiwaku!” nyanyian itu terdengar manis di telingaku. Jemarimu memainkan stang sepeda motor seakan benda itu adalah drum.

Aku menghela napas ketika mendengar kamu menyanyikan lagu itu. Kamu pernah berjanji ingin mengajariku agar bisa menyanyikan lagu itu sampai benar-benar hapal. Namun, sepertinya, kamu sudah lupa janji itu. Seperti yang kutahu, perempuan adalah pengingat sejarah yang baik sementara pria adalah pelupa yang ulung. Aku yang lebih sering diam daripada mengingatmu, memilih untuk diam dan tetap memerhatikan jalan. Terlalu banyak kenangan kali ini, rasanya aku ingin segera pergi dan berlari.

Sebelum mencapai Mister Burger, kamu mengarahkan sepeda motormu melalui fly over di dekat UKDW. Di sini tempat pertama kali kita melihat kembang api. Lalu, kita melewati gereja di depan UKDW. Ingat? Waktu pertama aku beribadah di gereja itu bersamamu, aku menggerutu karena tak menemukan kertas liturgi. Kamu, dengan gaya khasmu hanya berkata, “Sabar, Dik.” Padahal, liturgi ibadah ada di depan layar besar di dekat mimbar pendeta. Mengingat kita pernah melewati peristiwa manis itu, rasanya aku ingin tertawa.

Saat membawaku keliling-keliling di tempat kenangan kita, kamu tak membuka suara. Diam-diam aku memang memerhatikanmu, mencoba memahami arti diammu. Tapi, aku selalu gagal. Bertahun-tahun aku mengenalmu, tapi aku tak pernah tahu apa yang ada dalam hatimu.

Sesampainya di Mister Burger, aku memilih duduk di tempat kita biasa duduk. Di lantai dua dekat dengan balkon. Satu setengah tahun yang lalu, kita sering duduk di sini. Sambil mendengar deru kendaraan bermotor di Jalan Sudirman. Kita memakan burger dengan lahap, seperti biasa tanpa suara. Aku merasakan udara yang sama dengan satu setengah tahun yang lalu, kamu menggenggam tanganku dan kurasakan ada kekuatan di sana. Kutatap matamu dalam-dalam dan kurasakan ada dunia baru di sana. Tuan, seandainya aku tahu apa yang ada di dalam isi hatimu, ketika kaugenggam tanganku, ketika kautatap mataku; apakah karena kausungguh merindukanku?

Hingga sore berganti malam, kamu memutuskan untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Saat itu, kamu kembali menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lembut. Dalam kehangatan itu, akhirnya kamu kembali membuka suara. Kamu bercerita tentang kekasih barumu masih dengan genggaman tanganmu yang ada di jemariku. Kamu tersenyum ketika bercerita tentang wanita itu, tapi kamu juga terus menatap mataku seakan tak ingin adanya perpisahan di antara kita.

Aku menghela napas berat. Ketika kaumasih terus bercerita tanpa memerhatikan perubahan raut wajahku. Sudah tiga tahun aku mengenalmu, Sayang. Tapi, entah mengapa, aku tak pernah mengerti isi hati dan jalan pikiranmu selama ini?

Sungguh, aku tak tahu pria macam apa yang ada di depanku, yang masih bisa bercerita tentang wanita lain ketika jemarinya hangat menggenggam jemariku... :')

Minggu, 08 September 2013

@terryadamsbmx

I have been blown away, as I mention in reply to Terry <3 was handsome, well anyway ..

and secondly, he has retweeted my tweet at @dio_Via


siapa gt yg gk seneng klo tweet d retweet sama si handsome kyk dia xixixi :D rrggghh scara gue mah ngfans bgt sama dia~ main bmx nya itu hlo, wow banget!!

Haha pngen tau dia lebih bnyk? :D follow aja twitter dia @terryadamsbmx + cek www.terryadamsbmx.com :*

Suatu saat, Aku percaya...

Suatu saat, aku percaya…

Akan ada seseorang yang
membuatmu merasa semua
kenangan di masa lalu menjadi hal
yang tidak lagi penting, karena
kamu punya dia sekarang. Tawa
dan canda atau kebahagiaan kecil
lainnya merupakan hal yang wajib
dilakukan bersama dia, padahal
sebelumnya kamu jarang
melakukannya. Namanya yang
tertera di handphone mu saat
bunyi, bisa membuatmu merasa
lebih baik setelah melewati hari
yang lelah dan buruk.

Suatu saat, aku percaya…

Akan ada seseorang yang selalu
membuatmu tersenyum di setiap
harimu. Kamu tidak butuh obrolan
yang terus berlanjut, tetapi kamu
sudah merasa ramai ketika dia ada
di sampingmu. Hal-hal yang tidak
menarik perhatianmu sebelumnya,
akan menjadi menarik karena
kamu tau dia menyukainya seperti
kamu menyukai dia.

Sabtu, 07 September 2013

Suatu waktu, Aku percaya...

Suatu waktu, aku percaya…

Akan ada seseorang yang kamu
pikirkan di setiap langkahmu dan
di saat kamu melakukan apapun.
Hal-hal sederhana bisa saja
membawanya ke dalam pikiranmu
terus dan terus.

Suatu waktu, aku percaya…

Akan ada seseorang yang
membuatmu merasa bahagia,
walau kamu tau tidak semua hal di
dunia ini kekal, tapi kamu masih
ingin terus mempertahankannya.

Suatu waktu, aku percaya…

Akan ada seseorang yang kamu
temukan, belahan jiwamu, satu
satunya orang yang akan tetap
tinggal di hati dan hidupmu untuk
selamanya.

Dan sampai tibalah harinya, atau
saatnya, atau waktunya, kamu
akan tau bahwa dia pantas untuk
ditunggu menjadi bagian dari
hidupmu . Satu untuk selamanya.

Jumat, 06 September 2013

Suatu hari, Aku percaya...

Suatu hari, aku percaya…

Akan ada seseorang yang bisa
merubah hidupmu. Seseorang
yang akan kamu ceritakan segala
hal yang belum pernah kamu
ceritakan sebelumnya kepada
orang lain dan dia senang
mendengar ceritamu, bahkan ingin
mendengarnya lagi dan lagi…

Suatu hari, aku percaya…

Akan ada seseorang yang tidak
malu untuk menangis bersamamu
ketika kamu terluka dan tidak malu
untuk tertawa ketika melihat sisi
konyolmu. Dia tidak akan
menyakitimu seperti membuatmu
beranggapan bahwa kamu tak
cukup baik, tetapi dia akan
menyemangatimu dan
menunjukkan sisi spesialmu,
kelebihanmu yang akan membuat
orang lain merasa cemburu dan
tersaingi olehmu.

Suatu hari, aku percaya…

Akan ada seseorang yang
membuatmu merasa nyaman
menjadi dirimu sendiri, tanpa
harus memikirkan perkataan orang
lain, karena dia mencintaimu apa
adanya. Hal-hal sepele seperti
lagu kesukaanmu atau warna
favoritmu menjadi sesuatu yang
sangat berharga baginya, dan bisa
membuatmu menyayanginya
selamanya.

Sakura Wish (Japanese Story)

Pengen deh gue nulis sinopsis dr novel ini :D buat iseng2 aja sih yaa ;) pengen menuhin blog gue xixixi :$



"Jangan menangis, Keiko. Tetaplah ceria seperti biasanya," ucap Ryuji perlahan.
Lalu ia mengecup lembut kening Keiko.
"Jika nanti aku tidak kembali…"

Keiko tak mau mendengar kelanjutan ucapan Ryuji, juga tak mau memandang wajah Ryuji. Ia takut jika ia pandang sekarang, ini akan menjadi terakhir kalinya ia melihat wajah Ryuji. Namun Ryuji tak bisa dicegah. Sekali pun yang mencegahnya adalah gadis yang dicintainya. Ia tetap pergi, melintasi Hutan Aokigahara yang menyimpan banyak misteri, mendaki Gunung Fuji yang penuh diselimuti salju.

Aruhi Dokokade…someday, somewhere. Ryuji tak pernah berhenti berjalan dan menjelajah. Sampai di satu waktu, di suatu tempat, langkahnya terhenti. Meninggalkan luka perih di hati Keiko, menyisakan duka yang mendalam.

Saat musim dingin berakhir, hangatnya musim semi membawa harapan. Keiko membisikkan sakura wish di bawah pohon sakura yang bunga-bunganya siap mekar.
Sakura…sakura…sakura…

Angin berhembus lembut menjawab harapannya. Kemudian, seorang lelaki terpilih datang menghampirinya, menyelamatkan hati Keiko…

# namanya juga sinopsis, pasti yaa cuman inti nya doang haha :D jadi aja sedikit.. thx yg udah baca blog gue~

Kamis, 05 September 2013

Philophobia - Takut jatuh cinta / dicintai =))



Pengidap philophobia biasanya pny pikiran irasional yg diyakini sbagai suatu kenyataan/kebenaran ttg situasi yg menyangkut ttg percintaan. Hal ini disebabkan krn prnh mengalami ketakutan yg hebat & pengalaman pribadiyg disertai perasaan malu / bersalah dimana semuanya ditekan kedalam alam bawah sadar. Penyebab philophobia itu beragam, seseorang yg pernahrnh merasakan perlakuan yg tdk menyenangkan dlm percintaan, keluarga yg tdk harmonis & lingkungan yg kacau, prnh dikhianati oleh orang yang dia cintai, mengalami patah hati yg mendalam, krn imajinasi berlebihan yg diinginkan yg tdk tercapai, sering ditolak cintanya, rasa percaya diri yg tinggi / sebaliknya mempunyai rasa percaya diri yang rendah, kegagalan dlm menjalin hubungan dgn org lain, seseorang yg melihat/ mendengar cerita dr orang lain yg menyakitkan krn cinta sehingga dia tidak ingin hal itu terjadi terhadap dirinya, dan alasan lainnya mungkin krn penderita philophobia kurang berlapang dada untuk merelakan cintanya pergi yg akhirnya jadi kapok sama yang namanya cinta.

Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu

ini Sinopsis dr isi novel Cinta Bersemi Di Putih Abu-Abu.. seru hlo critanya ;) penasaran? read more? of course yes! :D



Berbicara cinta adalah berbicara hati.Cinta akan mengalir sesuai dengan kehendaknya tanpa satu orang pun tahu kepada siapa cinta itu akan berlabuh. Hingga cinta kemudian benar-benar menemukan belahan jiwanya...

Tidak selamanya berwajah mirip artis membawa keberuntungan. Valenia Mareta yang berwajah mirip artis tetap mengalami dibully seniornya saat MOS, tetap mengalami patah hati saat senior idamannya ternyata telah memiliki kekasih, mengalami juga dijiplak semua gayanya oleh seorang cewek yang menganggapnya sebagai saingan.

Menjadi cewek populer di sekolah harus bermental tangguh. Ini juga yang dirasakan Valenia saat ia menang lomba mirip artis, tetapi malah diledek sebagai seleb KW1. Hingga kemudian Valenia bertemu Revan, seorang vokalis band yang menyamar jadi pengamen. Valenia terpesona Revan yang telah memikatnya dengan lagu yang diciptakan khusus untuknya. Hingga ia tak menyadari perhatian Ernest, cowok hobi fotografi yang memendam cinta padanya dan telah tiga kali menyelamatkannya.

Waktu yang kemudian menjawab, siapa cowok yang pantas dipilih Valenia. Apakah Revan, vokalis band ngetop yang berkali-kali datang mengusik hatinya kemudian pergi tanpa kabar atau Ernest cowok berjiwa superhero yang selalu ada setiap kali ia butuhkan?
Saat Valenia sadar siapa cowok yang akan dipilihnya, cowok itu malah memberinya hadiah perpisahan karena harus pindah ke kota lain. Valenia tak punya banyak waktu, ia harus segera mengakui perasaannya. Sebelum terlambat, sebelum ia kehilangan cinta.

...
“Elo kenapa senyum-senyum sendiri begitu, Val?”
“Gue berasa déjà vu, Nes,”
“Déjà vu?”
Valenia mengangguk.
“Gue baru sadar gue udah tiga kali pingsan dan setiap gue bangun dari pingsan, yang ada di samping gue adalah elo, Nes. Bukan mama gue, bukan papa gue, bahkan bukan Aneta yang mengaku sahabat terbaik gue. Tapi elo, Nes. Aneh ya?”
Ernest tersenyum

...
“Wah, kamu benar-benar cowok perfek, Van. Pantas saja fans kamu juga makin banyak ya…Cantik-cantik lagi,” kata Valenia lagi.
Revan tertawa.
“Kamu cemburu, Val?” tanyanya iseng.
“Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Kita kan enggak punya hubungan apa-apa. Aku enggak berhak cemburu, kan?” jawab Valenia, tak mau kalah menghadapi keisengan Revan.
“Jadi…maksudmu, kamu pengen kita punya hubungan apa-apa?” goda Revan.
“Aku enggak bermaksud begitu,” jawab Valenia.
Terdengar Revan tertawa kecil.

Ernest dan Revan. Siapakah yang akan dipilih Valenia?

Rabu, 04 September 2013

Sweet Graduation

“IPA 3”. Nama kelasku dipanggil oleh MC malam pelepasan hari ini. Kami yang sudah berbaris, mulai memasuki gedung sambil diiringi lagu yang dinyanyikan tim paduan suara guru-guruku. Rasanya... DAG DIG DUG DUEERRR! Huh. Akhirnya ya, malam ini puncaknya segala suka duka selama 3 tahun berstatus murid SMA. Entah harus senang atau sedih. Sepertinya dua rasa itu bercampur aduk dengan rasa lainnya. Jadi hasilnya tak karuan.

Sesampainya di barisan kursi yang akan kami duduki, aku melihat layar yang menampilkan video saat MOS dulu. Ya ampuuunn, masa-masa cupu aku dan teman-temanku. Masa-masa dikerjai kakak kelas. Masa-masa yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan. Dan.... Oh, itu si............ Aldi! Hahahahaha dia lucu sekali saat itu! Duh, melihat Aldi di video itu aku jadi flashback sendiri. Saat MOS hari ketiga di Mekarsari, saat aku kesusahan membawa barang bawaanku yang teramat berat sampai kerepotan dan akhirnya jatuh. Aldi membantuku berdiri kembali dan membawakan setengah barang bawaanku. Sejak saat itu, aku kagum atau suka atau apalah namanya. Dan rasa itu, masih sampai saat ini.

“Sa, lo nangis?” Dea menyadarkanku dari lamunan tentang Aldi.
“Hah? Ngg... Iya hehe. Duh, melankolisnya keluar deh. Gue sedih ngeliat video itu.” Aku tak sadar kalau aku sampai nangis kayak gini.
“Dasar si melankolis. Oh iya, tadi ada Aldi haha”
“Iya gue ngeliat kok. Gara-gara itu gue jadi flashback dan nangis kayak gini.”
“Iya? Ya ampun, lo sampai kapan mau nyimpen rasa itu? Ini udah akhir lho.”
Aku hanya mengangkat bahuku mendengar perkataan Dea, sahabatku.
“Gue punya ide! Lo harus bilang itu sama Aldi, malam ini! Lo juga harus foto bareng sama dia, nanti setelah kita dikalungin medali sama kepsek.”
“HAH? Nggak nggak. Gila. Gue nggak senekat itu.”
“Eh, harus nekat kali. Nggak ada waktu lain. Ini moment yang pas. Kayak di lagu kesukaan lo, And if you got something that you need to say you better say it right now cause you don't have another day.” Dea menyanyikan sepenggal lirik lagu Vitamin C-Graduation(Friends Forever)

Benar juga ya. Hmm.. Nekat sekali-kali nggak papa deh. Besok kan aku dan teman-teman lainnya sudah kembali ke Bekasi, aku juga tidak se-bis dengan dia. Kalau di cihampelas, nanti palingan juga nggak ada kesempatan. Terus kapan dan gimana mau bilangnya? Aku juga nggak tau dia akan meneruskan kuliah atau kerja dimana.
“Oke. Tapi lo bantuin gue.” Aku menghembuskan nafas. Semangat Alsaaa!!

*****

Huwaaaaaa akhirnya tadi aku berani nyamperin Aldi di barisan bangku kelasnya! Eh, ditemenin Dea deh. Hehehe. Dia ramah banget nyambut kedatanganku. Cieelaahh. Senangnya kebangetan deh! Dia mau foto bareng sama aku, beberapa kali malah. Kami juga sempat ngobrol dan obrolan kami itu ditutup dengan pernyataan aku. Pernyataan kalau aku suka sama dia sejak MOS dan rasa itu masih bertahan sampai sekarang. Dia cukup kaget mendengarnya. Lalu dia tersenyum, belum berkata apapun juga di detik ke 15. Rajin banget ya aku hitungin waktu kayak gitu? Aku jadi salah tingkah karena diamnya dia, sampai aku pamit nggak jelas karena rasanya maluuuu banget. Aku pikir dia pasti mikir yang enggak-enggak tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk pergi. Tapi, saat aku mau mulai melangkah, dia menahanku.

“Tunggu, Sa. Jangan pergi.” Aku membalikkan badan. Dia menatapku dengan tajam. Aduh, aku nggak kuat dengan tatapan itu. “Aku juga suka sama kamu... Sejak kita MOS ” Sambung Aldi. Aku melotot. Apaaa? Aku nggak salah dengar kan?!!! Kyaaaaaaaaa. Ternyataaaa. Huh. Malam yang sangat menyenangkan! Aku pasti mimpi indah.

Selasa, 03 September 2013

Cinta yang sempurna



"Elo yakin mau nembak duluan?” lanjut Joan, raut wajahnya terlihat ragu.
“Yakin. Apa salahnya cewek nembak duluan? Gue enggak bakal tahu gimana perasaan Kevin sama gue kalo gue enggak nanya ke dia, kan?” sahut Lalas tanpa ragu.
Joan menghela napas panjang. Sekali lagi ia pandangi mata Lalas lekat-lekat. Ia sendiri tak mampu mendefinisikan apa yang ia rasakan saat ini. Antara kagum dan nelangsa melihat tekad Lalas yang nekat ingin menyatakan perasaannya pada sosok cowok idamannya, Kevin Adlair. Suatu hal yang sampai dunia kiamat pun rasanya tak akan pernah berani dilakukan Joan.

***

“Aku cinta kamu, Kev!”
Kalimat itu meluncur cepat dari mulut Lalas. Hening. Tak ada jawaban dari cowok berperawakan tinggi langsing yang duduk di hadapannya itu. Kevin Adlair urung mengangkat gelas minumannya, ia menatap Lalas dengan kening berkerut. Sementara Lalas sibuk mengatur irama jantungnya yang memburu. Tidak mudah baginya mengucapkan tiga kata itu. Ia butuh waktu satu tahun mengumpulkan keberaniannya menyerukan kalimat itu. Ya, satu tahun. Waktu yang sangat lama.

***

Ditolak itu menyakitkan. Apalagi jika disertai kata-kata yang membuat hati panas. Itu yang dirasakan Lalas. Cintanya ditolak Kevin Adlair, cowok satu sekolah yang menurutnya mirip Kim Hyun Joong idolanya. Joan juga merasakan sakit hati ditolak Daniel Youngblood cowok blasteran Inggris yang menurutnya mirip Zack Efron idolanya. Diam-diam Lalas dan Joan merencanakan pembalasan. Bukan pembalasan penuh kemarahan, tetapi pembalasan manis yang elegan.

Kehadiran seorang murid baru pindahan dari Singapura sempat mengacaukan persahabatan Lalas dan Joan. Baru kali itu mereka menyukai cowok yang sama, setelah sekian lama mereka menyukai tipe cowok yang berbeda. Untunglah mereka segera sadar, bahwa persahabatan lebih berharga dari apa pun.

Siapa sangka, Lalas dan Joan memiliki pengagum rahasia, dua cowok keren yang ideal sebagai pasangan dansa di acara perpisahan sekolah. Namun tak mudah mewujudkan harapan itu. Mereka harus menghadapi gangguan Genk Pinky Barbie, tiga cewek sok cantik yang merasa paling pantas mendapatkan cowok terpopuler di sekolah.
Kembali Lalas dan Joan memadukan kekuatan. Sweet revenge plan harus dilaksanakan secara brilian dan penuh keberanian…

Apakah ada cinta yang sempurna?

Novel ini berkisah tentang persahabatan dua cewek yang berbeda dalam segala hal. Mulai dari berbeda secara fisik, yang satu tinggi gede, yang satu tinggi kurus, yang satu hobi diet, yang satu bebas makan apa saja tanpa perlu khawatir berat badannya bertambah. Yang satu ngefans sama artis Korea, yang satu suka banget aktor Hollywood. Yang satu suka banget mi ayam, yang satu suka bakso, yang satu kursus bahasa Mandarin, satunya kursus bahasa Perancis, yang satu agak feminin, yang satu tomboi banget. Kesamaan mereka hanya satu, sama-sama suka nulis. Karena itu keduanya terlibat dalam ekskul mading sekolah.

Biasanya mereka punya cowok idaman yang berbeda. Tapi apa yang terjadi saat keduanya naksir cowok yang sama? Haruskah mereka mengorbankan persahabatan?

Dear friend with Love

Gue cuman pngen nge share sinopsis dr novel ini ;)



Katanya, a guy and a girl can't be just friends.
Benarkah? How about Karin and Rama?

Karin
Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu.Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!r

Rama
Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!

Cinta tak pernah sederhana bagi seseorang yg telah disakiti, dilukai & dikhianati berkali-kali

Ini adalah kisah yang selalu disembunyikan banyak orang. Rasanya menyakitkan saat kauharus tetap beranggapan bahwa keluargamu baik-baik saja, namun yang sebenarnya terjadi adalah pertengkaran, yang menimbulkan bantingan piring dan barang pecah belah lainnya. Bebunyian itu begitu sering terdengar oleh telinga Bianca, wanita yang mencoba bertahan meskipun terluka perlahan. Ia masih bertahan, bahkan ketika wajah ibunya lebam oleh pukulan ayahnya. Bianca masih bertahan, bahkan saat pelipis ibunya mengeluarkan darah segar karena tinju dari ayahnya.

Bianca menyembunyikan perasaannya, selalu berusaha terlihat baik-baik saja dalam kesakitannya. Hal itu juga yang ia lakukan, saat sahabat terbaiknya, Letisha; menjalin hubungan kasih bersama Joshua. Ya, Joshua, pria yang beberapa tahun terakhir terselip dalam rapalan doa Bianca. Joshua, cinta pertamanya yang ia biarkan kandas di tengah jalan, karena sahabatnya sendiri.

Pengkhianatan terjadi berkali-kali. Dia tersakiti oleh perlakuan ayahnya terhadap ibunya, ia juga tersakiti oleh perlakuan sahabatnya sendiri. Pernikahan katanya terjadi karena cinta, persahabatan terjadi juga karena kasih dan cinta. Tapi, pernikahan yang harusnya sakral, persahabatan yang harusnya kekal; malah menjadi sebab Bianca benar-benar terluka. Cinta. Cinta. CINTA! Dalam pengkhianatan berkali-kali, pantaskah ia terus memercayai cinta?

Ia mencoba meraba-raba hatinya sendiri, merangkak perlahan— berjalan dari kejatuhannya selama ini. Bianca memutuskan kuliah di Jogjakarta. Daerah istimewa yang terkenal menyimpan kenangan manis bagi banyak orang. Tempat yang selalu membawa seseorang kembali, selalu kembali, tak lupa untuk kembali. Di sana, ia bertemu dengan Gabriel. Seorang pria berpostur tinggi besar, yang mengindap penyakit gigantisme.

Bianca tak percaya cinta, sungguh ia tak lagi punya alasan untuk percaya cinta. Tapi, Gabriel membuka mata Bianca dengan cara berbeda. Bianca terdiam, haruskah ia menerima kehadiran Gabriel sebagai “malaikat” pembawa kabar baik dalam hidupnya? Apakah Gabriel adalah “malaikat” yang ditakdirkan Tuhan untuk menarik Bianca dari goa kegelapan menuju cahaya matahari? (:

Minggu, 01 September 2013

Perpisahan yang sebenarnya

“Perpisahan yang sebenarnya adalah ketika seseorang tidak pernah saling ingat lagi.”
“Mereka pergi untuk suatu tujuan yang enggak pernah kita tahu.”
“Mencintai selalu diiringi dengan rasa sakit. Siap mencintai siap disakiti.”
“Itu namanya pengkhianatan! Mencintai lalu disakiti. Terus begitu sampai mati?”
“Bahagia ada karena kita tahu rasa sakit.“
“Elo bukan anak TK yang kalau jatuh pasti nangis dan enggak mau berdiri sendiri.”
“Ia jadi sebab elo berubah, dan akan ada saatnya elo tahu, bahwa perubahan enggak selamanya buruk.”
“Persahabatan adalah yang menyadarkan mereka, bahwa mereka tidak pernah sendiri.”
“Hanya itulah yang ingin ku lakukan di dunia ini, menunjukkan cinta kepada mama, yang telah menyerahkan sisa hidupnya untuk mencintaiku.”
“Tapi, mau tak mau, suka tak suka, roda kehidupan pasti berputar. Ada pertemuan ada perpisahan. Walaupun semua hanya sementara.”
“Cari pacar itu bukan Cuma buat mengisi kesepian, kalo cuma buat mengisi kesepian sih, pacaran sama twitter aja ntar juga ngerasa rame.”
“Kalau kamu punya pacar tapi masih sering merasa kesepian, berarti ada sesuatu yang salah dalam hubunganmu.”
“Tidak semua rasa sakit berarti pengkhianatan.”
“Apa gunanya rasa sakit dalam mencintai?”
“Enggak terbalik? Kamu yang terlalu asik sama duniamu, sama teman-temanmu! Kita jarang punya quality time buat ngobrol atau cerita-cerita. Kamu yang menciptakan kenyataan itu, kita sudah berjarak!”
“Tapi secara tidak langsung dan tanpa kamu sadari, kamu sudah melakukan kesalahan.”
“Dan kamu menyayangi kekasihmu seperti istrimu . terlalu berlebihan!”
“Kamu yang membuat semuanya menjadi bermasalah!”
“Hal tentangku, apakah masih urusanmu?”
“Kalau aku tanggung jawabmu, kamu enggak akan berbohong sama aku lebih dari sekali!”
“Aku udah dewasa dan patut berjuang sendiri, tampa kamu.”
“Kita enggak pernah tahu siapa orang yang benar-benar baik dan orang yang benar-benar jahat.”
“Mengapa selalu saja ada kesedihan, setiap kali kebahagiaan mulai menyentuh hari-harinya?”
“Semua pria sama saja! Sialan!”
“Jangan mau dibikin galau hanya karena satu cowok doang.”
“Terlalu banyak masalah yang mengganggu, terlalu banyak persimpangan yang enggak aku mengerti.”
“Terlalu banyak persimpangan bukan berarti harus membuatmu berhenti!”
“Kamu enggak harus berhenti, apa lagi mundur. Hal yang terpenting adalah kamu harus tetap berjalan.”
“Lebih capek lagi kalau jalan ditempat dan tidak berpindah sama sekali.”
“Usaha itu gaya dikali perpindahan. Kalau usaha nol, dan perpindahan nol, berarti kamu cuma gaya.”
“Entah hidupku jadi seperti apa kalau tanpa kamu.”
“Yang penting enggak mengecewakan mamamu, karena mamamu enggak pernah mengecewakanmu, kan?”
“Kalau seperti ini, aku merasa dilemparkan ke masa lalu.”
“Merindukan sesuatu yang tak akan pernah kembali.”
“Segalanya yang telah hilang memang selalu dirindukan.”
“Kamu mengembalikan semuanya yang telah hilang.”
“Terimakasih sudah mengembalikan semuanya yang awalnya terasa hilang.”
“Awalnya, aku memang kehilangan. Setelah ada kamu, semua berbeda dan berubah.”
“Wanita yang mementingkan dirinya sendiri tak akan pernah memberi perhatian yang cukup untuk seorang pria.”
“Aku diam karena percaya bahwa akan ada waktunya kalian tahu kebenaran yang ada.”
“Wujud mencintai adalah memaafkan.”
“Cinta bisa datang karena terbiasa.”
“Beberapa jam terasa hanya beberapa menit. Puluhan menit hanya terasa beberapa detik.”
“Selalu saja seperti ini, setiap kali kebahagiaan mulai menyentuhnya, maka rasa sedih juga akan menegurnya dengan keras. Apakah bahagia dan sedih selalu satu paket?”
“Terbiasa belum tentu benar. Dan… hal yang baru belum tentu salah.”
“Kamu dilarang berpendapat sebelum mencoba hal yang baru bagimu.”
“Kadang… kita enggak pernah tahu apa yang terjadi diantara orangtua kita.”
“Aku tahu dan pernah dalam posisi seperti kamu. Aku tahu dan mengerti rasa sakitnya. Tapi, ratapan dan rasa sakit itu hanya sementara.”
“Jawaban Tuhan yang seringkali dianggap sepele oleh manusia.”
“Ada tiga jawaban tuhan untuk menjawab permintaan manusia. Ketiga jawabaan itu adalah; Iya, tidak, dan tunggu.”
“Bagi tuhan selalu ada waktu yang tepat sekaligus mengejutkan untuk menciptakan keajaiban.”
“Segala hal yang terjadi di bawah kaki langit ada waktunya. Semua akan indah pada waktunya.”
“Tuhan memang sutradara kehidupan, tapi manusia tak pantas jika harus terus-menerus menyalahkan.”
“Tak ada yang bisa diselamatkan lagi? Tak ada yang bisa mengubahnya seperti dulu lagi?”
“Kesalahan terbesar manusia adalah saat ia tak bisa memilih hal-hal yang patut diperjuangkan dan juga pantas untuk ditinggalkan.”
“Laki-laki yang menyakiti wanita sama saja menyakiti wanita yang telah melahirkannya ke dunia.”
“Tuhan menghitung setiap tetesan air mata kesedihan, dan akan menggantinya dengan jutaan kebahagiaan.”
“Bianca percaya, Tuhan punya rencana.”
“Hapus air matamu, kamu penyelamat kebahagiaanmu sendiri. Kamu pahlawan untuk kebahagiaanmu sendiri.”
“Ingat! Jangan menghabiskan waktu bersama seseorang yang tidak tepat!”
“Elo mau bohongin gue? Basi! Air mata elo buaya banget, tahu enggak!”
“Elo lihat betapa hancurnya gue sekarang? Elo lihat betapa berantakannya gue sekarang? Gue kosong tanpa elo.”
“Memang mereka tak saling berucap tapi senyuman dan hati mereka saling mengungkapkan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.”
“Mengakhiri sesuatu yang terbiasa dijalankan itu tidak mudah.”
“Kebahagiaan dicari. Bukan jatuh dari langit!”
“Teman hidup yang baik adalah dia yang menyelamatkan mimpi-mimpi, bukan malah menghancurkan dan menghanguskan harapan.”
“Wanita patut dilindungi, binatang berwujud manusia seperti itu tak pantas diperjuangkan.”
“Lebih baik berpisah daripada harus saling menyakiti.”
“Apapun untuk mama pasti akan kulakukan.”
“Dunia makin jahat, kasihan kalau wanita dibiarkan berjalan sendiri tanpa adanya seorang pria yang baik.”
“Hidup terlalu singkat jika dihabiskan dengan seorang pria yang senang menyakiti hati wanita.”
“Dan… kita tidak akan pernah terpisahkan atau tersakiti lagi.”
“Rasanya mau berkata jujur pun sulit, apalagi harus berkata bohong.”
“Kamu sudah yakin, namun masih menyimpan rasa gengsi.”
“Datangnya cinta memang tak perlu perkenalan lama.”
“Lihat matanya! Lihat cara bicaranya! Lihat cara dia memperlakukanmu! Dia… dia… dia mencintaimu.”
“Jatuh cinta itu menyakitkan, namanya saja jatuh, pasti sakit!”
“Sakit yang membahagiakan jika dia membantumu untuk bangun dari kejatuhanmu.”
“Dia malaikat pembawa kabar baik!”
“Tuhan membuka matamu melalui kehadirannya.”
“Mereka seperti ingin membicarakan banyak hal tapi tertutupi oleh rasa gengsi.”