Minggu, 27 Juli 2014

Ketika kita masih merasa luka ketika mengingat kejadian yang buruk berarti kita belum cukup dalam memaafkan seseorang

Seorang teman mengeluh mengapa dia masih marah setiap mengingat kejadian perselingkuhan suaminya dahulu padahal saat ini suaminya sudah menyadari kesalahannya dan menjadi baik.
Kejadian seperti ini dialami oleh banyak orang dan membuat mereka menderita. Bagaimana cara kita mampu melepaskan diri dari hal ini?

Segala sesuatu bersumber pada diri kita sendiri. Sudut pandang kitalah yang menentukan kedamaian dan kebahagiaan kita. Kalau kita mampu menjalani hidup dengan sudut pandang yang positip maka kita akan damai, tetapi kalau kita menggunakan sudut pandang yang negatip maka kita akan menderita.

Seseorang yang menggunakan sudut pandang yang negatip cenderung berorientasi dengan kepentingan dirinya semata atau ego yang menguasainya, mereka cenderung menyalahkan orang lain dan senang melakukan pembenaran diri sehingga mereka tidak mau bertoleransi dengan orang lain dan sulit untuk memaafkan orang lain. Mereka sulit untuk bertumbuh dalam kehidupan ini karena selalu terbelenggu dengan masa lalu mereka.

Seseorang yang menggunakan sudut pandang yang positif akan melihat orang lain secara obyektif dan menerima orang lain apa adanya, mereka selalu berpikiran positf dalam melihat suatu masalah walaupun yang terjadi sangatlah buruk mereka mampu melihat sisi yang positip dari kejadian tersebut, mereka penuh cinta kasih dan bertoleransi dengan semua orang. Mereka mudah memaafkan orang lain dan terus bertumbuh dalam menjalani kehidupan mereka.

Ketika kita memahami dua kondisi tersebut maka kita akan mengetahui bagaimana kondisi sesorang dalam memilih sudut pandang mereka untuk menyelesaikan masalah, dan itu merupakan pilihan mereka.

Seperti teman saya tadi, walaupun suaminya sudah baik dia tetap tidak dapat melihat kebaikan suaminya. Sayapun menasehatinya untuk memaafkan lebih dalam lagi karena ketika saya ukur dengan pengukuran dengan energi, masih banyak kemarahan yang dia pendam atas kejadian tersebut. Sayapun mengajak dia untuk memaafkan suaminya sampai semua radiasi kemarahannya habis. Setelah dia benar-benar lebih dalam memaafkan suaminya dan mulai melihat dengan sudut pandang yang positip, seminggu kemudian ketika kita bertemu lagi dia menceritakan bahwa dia tidak lagi merasa marah ketika mengingat kejadian buruk tentang suaminya dan dia sudah tidak menderita lagi.

Hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijaksana untuk mengalahkan ego kita dan belajarlah untuk melihat orang lain dengan sudut pandang yang positip sehingga kita mampu menjalani hidup ini dengan penuh kedamaian.

Luangkan diri berada dalam keheningan dan kejernihan pikiran agar kita mampu mengoreksi diri kita. Dengan memahami diri kita sendiri kita akan tahu kekurangan kita dan memperbaikinya.
Apabila kita sudah memahami pengukuran dengan energi maka ini akan sangat membentu sekali menyadari kekurangan yang kita miliki.

Ukurlah radiasi pikiran negatip yang ada didalam diri, dan terhubunglah dengan Tuhan agar energi illahi membantu kita untuk dapat melepaskan semua energi negatip hingga semuanya lepas diri kita.
Dengan kita rajin melakukan pemurnian diri maka kita akan terbebas dari kontaminasi energi negatip yang ada di alam ini sehingga kita tak mudah terpengaruh dengan kejadian negatip di luar, karena sesuai dengan Hukum Energi yaitu energi sejenis menarik sejenis.

Jadikan diri kita positip, maka sudut pandang kita akan menjadi positip dalam menjalani kehidupan dan hal-hal yang positip akan datang dalam hidup kita sehingga kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh cinta dan kedamaian.
Untuk menjadi positip tentunya kita harus terlebih dahulu melepaskan hal-hal negatip didalam diri kita.

Ubahlah diri kita sebelum kita mengubah orang lain.

Renungan jiwa 27 juli 2014

Kita tidak dapat memuaskan banyak orang.

Berinteraksi dengan banyak orang sering kali membuat kita lelah dan terkuras dan putus asa. Banyak orang, banyak keinginan dan kepentingan yang semuanya juga ingin mendapat perhatian dari diri kita. Ketika kita tak mampu memenuhinya maka protes akan muncul, kemarahan dan kekecewaan selalu diarahkan kepada kita, padahal kita sudah berupaya memenuhinya tetapi banyak orang tak pernah puas akan apa yang sudah kita lakukan. Bagaimana kita menyikapinya ?

Ketika seseorang menanggapi hal ini dengan ego maka mereka pasti akan berhenti melakukan pekerjaan yang dia jalani, mereka merasa lelah karena tak pernah dianggap benar.
Tetapi kalau kita memahami pekerjaan ini, sebenarnya ini adalah proses pembelajaran bagi kita untuk menurunkan ego, agar kita bisa melayani orang lain dengan lebih baik.

Lihatlah orang yang banyak menuntut pada orang lain dengan perhatian lebih untuk diri mereka, sebenarnya kita harus merasa kasihan kepada mereka karena mereka tidak pernah merasa puas dengan diri mereka sendiri, mereka adalah orang yang selalu merasa kekurangan, dan menuntut orang lain untuk memenuhinya.
Mereka menjadi guru bagi kita untuk menjadi lebih welas asih dan menjadi lebih sabar. Bergaul dengan mereka membuat kita mengasah diri kita untuk berlatih lebih sabar dengan pengendalian diri.

Kita tahu, kita tak dapat memuaskan orang lain seperti yang mereka inginkan, tetapi paling tidak kita telah melakukan semua kerja kita dengan pelayanan yang terbaik yang kita miliki, disinilah kitapun belajar untuk lebih iklas menerima apa pun penilaian orang lain atas diri kita.

Ternyata setiap pertemuan kita dengan orang lain membawa hikmah dan nikmat bagi kita, jika kita mampu melihat keindahan dibalik semua ini dengan sudut pandang yang positip. Kita tak perlu mengubah orang lain tetapi kita lah yang mengubah sudut pandang kita menjadi positip sehingga mampu menjalani seluruh kehidupan dengan keiklasan.

Berlatihlah dengan orang yang paling menyulitkan diri kita, dan bersyukurlah mereka dihadirkan Tuhan sebagai guru bagi kita untuk berlatih kesabaran dan keiklasan, tanpa kehadiran mereka maka sabar dan iklas hanya sebagai teori saja bagi diri kita.

Dengan mengamati seluruh hidup kita dengan berkesadaran, maka kita akan dapat melihat betapa sayangnya Tuhan kepada kita dengan menghadirkan banyak orang yang mempunyai karakter yang berbeda-beda sebagai saudara, teman bahkan orang yang bermusuhan dengan kita hanya untuk membuat kita selalu berlatih kesabaran, penerimaan, keiklasan dan mencintai semua orang apa adanya.
Maka jangan sia-sia kan waktu kita dengan keputus asaan, berlatihlah mumpung ada orang yang bisa kita jadikan guru untuk melatih kesabaran kita, jika kita mampu melewatinya maka kita juga yang menjadi lebih sabar dan iklas.

Sabtu, 26 Juli 2014

Renungan jiwa 26 juli 2014

Kita adalah wayang bagi Tuhan untuk memerankan alur cerita alam ini.

Perjalanan hidup memaksa kita melewati banyak kejadian-kejadian yang membuat kita mempunyai banyak cerita.
Kegembiraan , persahabatan , pertentangan , persaingan , keterpurukan , sukses , dan banyak hal yang mewarnai hidup kita .
Tetapi sering kali kita merasa hampa dan lelah setelah menjalani semuanya seakan-akan hidup ini hanya sesuatu yang sekedar lewat dan menghabiskan waktu saja , sebagai rutinitas saja .

Apakah makna hidup yang sesungguhnya ? Mengapa kita harus menjalani semua ini ?

Hidup kita adalah proses belajarnya sang jiwa untuk memahami dirinya yang sejati , mengetahui peran kita dalam hidup , dan menjalani peran yang kita mainkan dengan baik , memahami dibalik semua peran yang kita mainkan ada skenario yang sudah tertata , dan ketika kita melenceng dari skenario ada sutradara yang mengingatkan kita pada peran kita semula. Segalanya sudah diatur oleh Tuhan.

Untuk menjalani peran kita dengan baik dibutuhkan keyakinan dan kepercayaan yang total kepada Tuhan karena Tuhanlah sumber kekuatan yang terbesar di alam ini . Dengan bersandar pada kekuatan Tuhanlah kita yakin dapat menjalaninya dengan tegar .

Rencana Tuhan lebih indah daripada rencana manusia. Biarlah kita bekerja sesuai rencana Tuhan.
Lakukanlah perenungan batin , jangan memaksakan diri membuat rencana sesuai ego kita , lepaskan semua kesombongan , dan jadilah rendah hati ikutilah rencana Tuhan yang telah dipersiapkan untuk kita .

Kita adalah WAYANG bagi Tuhan untuk memainkan peran kita masing-masing dengan baik sehingga keseluruhan cerita di alam ini akan mengalir dan hidup.

Sabtu, 12 Juli 2014

Renungan jiwa 12 juli 2014

Cara penyelesaian suatu masalah biasanya datang sebelum masalah itu terjadi, orang yang memahaminya adalah orang-orang yang selalu hidup dengan penuh kesadaran sehingga mampu menjalani tahap demi tahap penyelesaian masalah sebelum masalah itu muncul.

Jalani semua instruksi yang sederhana yang muncul dalam hidup kita karena itulah cara yang diberikan Tuhan agar kita dapat menyelesaikan masalah yang akan datang kepada diri kita.

Minggu, 06 Juli 2014

Karma adalah hutang cinta

Apabila kita berbuat salah kepada seseorang, sebenarnya kita bukan berhutang pembalasan, namun cinta.

'Pembalasan' seolah2 terjadi adalah cara Tuhan untuk membuat kita ingat dan berfokus pada hutang kita.

Cinta manusia tidak murni dan tidak akan pernah cukup (dan berbalut ego) untuk membayar hutang cinta kita, haruslah dengan Cinta Ilahi.

Cara untuk bisa memberikan Cinta Ilahi adalah dengan berlatih, membersihkan energi, pikiran dan jiwa. Memperbesar kapasitas Cahaya, Cinta, dan Energi Ilahi.

Perjuangan manusia untuk 'bersih-bersih' dan memperbesar kapasitas kemungkinan besar tidak akan pernah cukup dalam satu kehidupan, kecuali dibantu oleh Guru Sejati.

Guru Sejati hanya akan muncul dalam kehidupan kita tergantung dari kepantasan kita. Dan kita baru bisa memiliki kepantasan apabila kita punya ketulusan dan niat untuk pemurnian diri (energi, pikiran, dan jiwa), serta tentu saja, akumulasi karma baik yang cukup.

Apabila belum bertemu dengan Guru Sejati, teruslah berusaha dengan semua yang kita miliki.

Apabila sudah bertemu dengan Guru Sejati, manfaatkanlah momentum ini untuk memperbesar saluran Cahaya, Cinta, dan Energi Ilahi, agar kita bisa mengatasi semua masalah kita, dan tentu saja, membayar hutang cinta kita kepada orang yang pernah kita sakiti, baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan yang lalu.

Cara pembayarannya adalah dengan mengalirkan Cinta Ilahi, yang hanya bisa kita dapat dengan keterhubungan kita kepada Tuhan.

Guru Sejati akan mempermudah proses ini dengan mengajarkan cara keterhubungan dengan Tuhan, pemurnian diri, dan memperbesar saluran2 Ilahi.

Dan semua itu dilakukan atas dasar totalitas kepada Tuhan dan jalan Tuhan.

Jalan Tuhan bisa diketahui dengan menggunakan teknik deteksi energi.

Apabila kita di jalan Tuhan, niscaya semua akan lebih dimudahkan. Kita hanya akan menghadapi tantangan yang memang merupakan porsi kita.

Tidak ada tantangan hidup yang tidak mampu kita selesaikan apabila itu memang merupakan jalan Tuhan.

Totalitas pada Tuhan dilakukan dengan cara: Eling (selalu ingat kepada Tuhan), Nrimo (pasrah pada jalan Tuhan), dan Waspodo (selalu aware terhadap petunjuk yang diberikan Tuhan melalui kejadian sehari2 kita)

Sabtu, 05 Juli 2014

Renungan jiwa 5 juli 2014

Ketika kita mampu melewati satu hari dengan kedamaian maka kita akan mampu melewati satu minggu dengan kedamaian, kalau kita mampu melewati satu minggu dengan kedamaian maka kita akan dapat melewati satu bulan dengan kedamaian dan apabila kita sudah mampu melewati satu bulan dengan kedamaian maka kita akan mampu menjalani seluruh kehidupan kita dengan penuh kedamaian karena segala sesuatu harus dilakukan dan didisiplinkan sebelum semuanya menjadi suatu kebiasaan yang spontan dan menjadi permanen di dalam diri kita.