Renungan jiwa 17 mei 2014
Seorang teman datang dengan kemarahan karena habis bertengkar hebat dengan sahabat yang sangat disayanginya. Dia merasa tidak dapat memaafkan kesalahan sahabatnya dan memilih memutuskan tali persahabatan mereka. Sangat disayangkan persahabatan yang sudah terjalin lama harus berakhir dengan dendam. Sayapun memberikan saran untuk berjiwa besar dan berlapang dada menerima kembali sahabatnya, tetapi teman saya menolaknya. Saya hanya tersenyum karena saya tak mungkin memaksakan kehendak pada teman saya itu.
Sahabat adalah teman terbaik kita yang kita ajak berbagi dalam suka dan duka, bersama dia kita dapat menjalani kehidupan ini dengan tegar karena dia selalu memberi penguatan kepada kita. Tentunya saat-saat yang indah bersama akan menimbulkan kerinduan apabila kita berjauhan dengan mereka. Betapa menderita teman saya ini karena keputusannya sendiri. Penderitaan akan muncul seiring dengan waktu yang terus berjalan, bisakah teman saya mampu menjalani kehidupannya dengan damai ketika dendam masih ada didalam dirinya?
Kita semua pasti pernah mengalami kejadian seperti ini, entah dengan sahabat, teman, saudara kita. Bagaimana cara kita untuk tetap damai ?
Menjadi damai dan bahagia merupakan pilihan, orang lain tak mampu memaksakan kepada diri kita.
Untuk menjadi damai dan bahagia kita harus terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ego kita, sehingga kita mampu berbesar hati dan berlapang dada menerima semua kejadian .
Ego yang tinggi membuat kita menjadi sombong dan tidak membutuhkan kehadiran orang lain untuk berbagi dengan diri kita. Memandang rendah orang lain dan merasa diri sudah benar.
Sangat kasihan orang yang mempunyai ego yang tinggi karena mereka sudah pasti tidak damai dan bahagia. Ego mereka membuat mereka menjadi keras hati. Tidak selamanya mereka akan terus bertahan dengan kondisi ini, karena ini akan membuat mereka kesepian dan lelah menjalani kehidupan.
Cobalah untuk merenungkan memahami diri sendiri,seberapakah ego saya ?
Cara kita untuk menurunkan ego adalah:
- mengetahui terlebih dahulu seberapa besar ego kita. Kita bisa melihat di kejadian-kejadian yang telah lewat. Tanpa kita pernah mengetahui seberapa besar ego kita, kita akan mempunyai kecenderungan selalu benar.
- sadari dan mengakui bahwa diri kita mempunyai hal itu, tanpa ada pengakuan dari diri sendiri maka kita tak akan mampu melepaskan ego kita, karena semua butuh pengakuan sebelum dilepaskan. Seperti suatu kesalahan tidak akan terselesaikan apabila belum ada pengakuan akan kesalahan tersebut.
Pengakuan diri sendiri menandakan kita telah mampu mengalahkan ego kita. Disinilah perang batin, perang kita dengan kegelapan yang ada didalam diri kita, kita harus mampu memenangkannya.
- setelah orang mampu menjadi pemenang mengalahkan egonya, barulah dia akan menjadi orang yang rendah hati. Mereka akan mampu berlapang dada, berbesar hati dan berjiwa besar untuk menerima kehidupan ini apa adanya.
Ketika hati seseorang menciut atau kecil maka penderitaan itu akan menyesakkan dada, tetapi orang yang berbesar hati dan berlapang dada mereka akan memperluas hati mereka mungkin sampai seluas lapangan sepak bola sehingga penderitaan yang ada tidak terasa.
Berlatihlah untuk mengalahkan ego kita sehingga kita mampu berlapang dada menerima orang lain apa adanya.
Alangkah indahnya dunia yang beraneka ragam ini apabila kita mampu berbesar hati dan berjiwa besar menerima kondisi orang lain karena semua orang sedang berproses.
Jangan mudah menghakimi kesalahan orang lain dengan keras karena kita juga tidak sempurna, hadapilah semuanya dengan kedamain bahwa semua memang harus terjadi seperti adanya untuk membuat kita semua bertumbuh.
Apalagi untuk orang yang kita sayangi, sahabat dan saudara kita, berlapangdadalah dan berjiwa besarlah untuk memulai kembali menjalin kedekatan hubungan, berupaya agar kita dapat bersama lagi untuk suatu kebersamaan yang indah yang membuat kita akan terus tersenyum dan tegar menjalani kehidupan ini karena ada sahabat, saudara yang menguatkan diri kita.
Pancarkan cinta kepada orang yang kita sayangi yang kita ajak bermasalah, karena orang yang penuh kemarahan mereka kekurangan cinta. Lakukan dalam beberapa hari sampai energi cinta itu penuh didalam diri mereka, dan kita harus berjiwa besar memulai percakapan untuk perbaikan hubungan.
Biarlah hubungan semua orang yang bermasalah menjadi baik kembali, dipenuhi dengan cinta dan kedamaian. Terjadilah . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar