Renungan jiwa 5 april 2014
Kita sering sekali mendengar hal tersebut ketika kita berdiskusi dengan teman, atau ketika seorang teman mendapat musibah maka teman yang lain akan memberi penguatan. Memang terdengar menyejukkan hati kita paling tidak membuat kita bisa menerima kejadian yang kita alami dan berpikir bahwa orang lain yang kita ajak bermasalah pasti mendapat hal buruk karena karma buruk kita sudah mereka ambil.
Apakah hal tersebut diatas suatu kebenaran atau suatu pembenaran yang hanya untuk menenangkan diri kita?
Di alam ini suatu kebenaran manusia belum tentu menjadi kebenaran Tuhan, dan yang menurut Tuhan benar belum tentu dianggap manusia sebagai kebenaran. Dalam jaman yang sangat membingungkan ini banyak kebenaran-kebenaran yang diusung sebenarnya hanya baru sebatas kebenaran yang dibenarkan oleh manusia yang artinya ego manusialah yang menganggap itu sebagai kebenaran. Sangat sedikit yang mampu memahami kebenaran Tuhan, bahkan seperti ajaran- ajaran di kitab yang di terjemahkan pun bisa salah dalam menafsirkan sehingga kebenarannya pun melenceng. Walupun melenceng banyak pula yang mau mengikutinya karena mereka tidak tahu atau ilmu pengetahuannya terbatas.
Kalau kita mau mengamati lebih dalam lagi, tidak ada yang kebetulan di alam ini, semua terjadi karena hukum alam yaitu hukum energi sejenis menarik sejenis. Mereka yang berada dalam kebingungan memang harus berada dalam kondisi berada pada orang-orang yang sejenis yang sama-sama bingung. Tetapi ketika mereka layak mendapat kebenaran maka merekapun akan bergerak mencari kebenaran sehingga mereka akan menemukannya.
Yang menentukan bukan Tuhan tetapi buah karma yang kita tanam. Karena saat ini kita dalam kondisi menerima karma matang kita. Maka alam akan memetakan kita untuk menemukan kesejenisan dengan apa yang kita miliki. Kalau kita masih sejenis dengan kegelapan cepatlah mengubah diri dengan melepaskan kegelapan di dalam diri kita, yang perlu kita lakukan hanyalah meniatkan untuk menjadi lebih baik dengan membuka diri dengan ilmu pengetahuan dan siap menerima perubahan. Banyak orang takut keluar dari zona nyaman, takut berubah, takut punya lingkungan yang berbeda sehingga mereka diam.
Kebenaran bersifat bertingkat. Ketika pemahaman kita baru pada tingkatan rendah kita akan menganggap hal itu benar, tetapi apabila kita memahami yang lebih tinggi lagi maka hal itu tidak lagi sebagai kebenaran bagi diri kita.
Dengan memahami energi ini akan membantu kita mengetahui kebenaran- kebenaran di alam ini. Dengan pemahaman energi atau daya batin ini kita dapat mengukur kebenaran di alam ini tanpa batas ruang dan waktu. Hal ini dapat dipelajari karena kita perlu mengetahui kebenaran dangan pengukuran juga. Karena selama ini kita hanya diarahkan untuk meyakini saja tapi kita tidak diajak mengukurnya. Tentunya dengan pengukuran akan membuat kita dapat lebih meyakini sesuatu yang terjadi. Pengukuran tingkat kebenaran ini sebenarnya sudah dipahami oleh orang-orang suci di jamannnya tetapi belum diungkapkan.
Dengan memahami energi kita akan lebih mempunyai keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan Alam ini, tidak hanya berteori tetapi kita menggunakan rasa, kitapun tidak mudah terpengaruh dengan fenomena yang ada diluar karena kita mampu mengukur kebenarannya dan peka dengan rasa yang muncul dari energi yang diradiasikan.
Lakukan proses pencarian kebenaran di dalam diri, terbukalah dengan ilmu pengetahuan jangan menjadi fanatik yang berlebihan sehingga kita akan terbuka dengan kebenaran. Ingat kebenaran akan datang apabila kita tidak banyak menyimpan kebohongan.
Sesuai dengan hukum energi sejenis menarik sejenis yang penuh dengan kejujuran akan tertarik dengan kebenaran , yang penuh kebohongan harus siap dibohongi.
Jika ingin berubah lakukan perenungan batin, sadari kebohongan yang sudah kita lakukan, mintalah maaf kepada semua orang yang sudah kita bohongi dan niatkan untuk melakukan kejujuran. Tidak cukup dengan niat saja tetapi lakukan lebih banyak kejujuran.
Biarlah kita menjadi layak untuk mengetahui kebenaran Tuhan, Terjadilah . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar