Jumat, 11 April 2014

Menggendong prasangka buruk.

Renungan jiwa 11 april 2014

Seorang teman melihat suami iparnya memboncengkan seorang wanita cantik. Seketika pula pikiran-pikiran negatif bermunculan dalam benaknya dan membuatnya marah. Seharian teman saya ngedumel dan merasa sedih memikirkan iparnya yang dikianati suaminya. Diapun ingin mendamprat suami iparnya sepulang kerja nanti.

Kejadian seperti diatas sering kita temui dalam kehidupan kita, dan sering prasangka buruk muncul begitu saja tanpa mampu kita kendalikan dan membuat kita menderita. Bagaimana dengan kebenaran dari apa yang kita lihat? Benarkah dugaan kita sesuai dengan kejadian yang sebenarnya ? Bagaimana kita menyikapi kejadian tersebut seandainya kita mengalaminya?

Tentunya kita tak ingin diri kita menderita karena melihat suatu kejadian yang menimbulkan perasaan yang tidak nyaman ini. Tentunya kita tak dapat menghakimi begitu saja dari kejadian yang kita lihat, kita harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Jika kita masih dipenuhi dengan pikiran buruk maka kita akan menilai kejadian ini sangatlah buruk, pasti kita akan menilai sesuai dengan kacamata diri kita. Kita akan menjadi menderita menggendong perasaan buruk yang muncul dan menjadi tidak nyaman. Belum lagi kita akan menceritakan kejadian buruk ini kepada orang lain dan akhirnya kita menyebarkan gosip yang belum tentu benar. Bayangkan berapa banyak karma buruk yang sudah kita buat.
Tetapi jika kita menjadi bijaksana, kita akan menjaga pikiran kita tetap positif, kita akan berpikir " yah mungkin suami ipar sy lg membantu mengantar temannya." Dengan mengendalikan pola pikir yang positif maka kita tidak akan terpengaruh oleh fenomena yang terjadi diluar diri kita, maka kitapun tetap damai.

Bayangkan lagi jika kita berprasangka buruk, kita akan terus menerus memikirkan hal tersebut dan membuat kita lelah, padahal belum tentu kejadian yang sesungguhnya seburuk yang kita pikirkan.
Contoh , ada seorang biksu dan gurunya hendak menyebrang sungai, ada seorang wanita cantik minta disebrangkan tetapi biksu itu menolaknya karena tidak pantas seorang biksu menggendong perempuan. Tetapi ternyata sang guru menyanggupi untuk menolong wanita itu, maka mereka bertiga menyebrangi sungai, sang guru menggendong wanita tersebut dan sang murid mengikuti dari belakang. Sesampai di sebarang sang guru menurunkan wanita itu dan dengan menunduk hormat wanita itu mengucapkan terimakasih kepada penolongnya, dan sang gurupun melanjutkan perjalannya. Sang murid sangat sibuk dengan pikiran buruknya terhadap sang guru hingga tanpa disadari mereka sampai di tempat tujuan.
Sang guru mengerti apa yang dipikirkan muridnya maka beliaupun berkata " aku sudah melepaskan gendonganku ketika tiba di sebrang sungai tetapi mengapa engkau menderita dengan menggendong pikiran burukmu sampai di tempat ini ?"

Pertanyaan guru akan membuat kita merenung, sang guru tidak melakukan hal buruk, tetapi pikiran buruk muridnya yang membuat murid ini menderita, menggendong prasangka buruk.

Cobalah merenung untuk kejadian-kejadian yang telah lewat yang kita alami sesuai dengan cerita diatas, bahkan ini masih terekam dalam benak kita.
Cobalah untuk memahaminya dan berusahalah melepaskan prasangka buruk yang masih kita gendong dengan meminta maaf atas kejadian itu, dan juga maafkan semua orang yang terlibat termasuk diri kita sendiri.
Berlatihlah untuk menjadi bijaksana dalam melihat semua kejadian, dan penuhilah diri kita dengan kedamaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar